Cerita Sex Gratifikasi Donat – Part 8

Cerita Sex Gratifikasi Donat – Part 8by adminon.Cerita Sex Gratifikasi Donat – Part 8Gratifikasi Donat – Part 8 BAB 5 AKTOR PENGGANTI Sheila, wanita manis penggemar donat sedang menaiki tangga menuju ruang Bupati. Mereka baru tiba tadi pagi dan tak ingin membuang waktu. Segalanya telah berubah. Seharusnya, peran Sheila tidaklah menjadi sentral dalam misi ini, namun sesuatu yang menimpa Febi pagi dini hari, merubah semua rencana. Pak Ramlan, […]

multixnxx-Alaina comes home from school to find her -0 multixnxx-Alaina comes home from school to find her -1 multixnxx-Alaina comes home from school to find her -2Gratifikasi Donat – Part 8

BAB 5 AKTOR PENGGANTI

Sheila, wanita manis penggemar donat sedang menaiki tangga menuju ruang Bupati. Mereka baru tiba tadi pagi dan tak ingin membuang waktu. Segalanya telah berubah. Seharusnya, peran Sheila tidaklah menjadi sentral dalam misi ini, namun sesuatu yang menimpa Febi pagi dini hari, merubah semua rencana.

Pak Ramlan, pimpinan divisi, harus memutar otak merubah semua skenario. Febi baru bergabung bersama mereka, akan tetapi perannya tak tergantikan. Dengan cepat, pimpinan sebuah divisi unggulan di detasemen anti korupsi ini, telah menyiapkan rencana cadangan. Sheila berperan sebagai salah seorang tokoh kunci. Tugasnya satu ; masuk ke kantor pemerintahan, temui pemimpin tertinggi disana setelah Pak Bupati ditangkap tangan dan kabarkan surat perintah penggeledahan. Meski pun mereka adalah unit anti korupsi yang bisa menggeledah siapa saja dimana saja, prosedur hukum harus dipatuhi. .

Masalahnya wanita muda yang diserahi tugas ini sedang risau. Bukan karena dia tidak mampu, tapi Sheila terlalu gampang gugup. Sifat bawaan yang tak menyenangkan baginya. Sebelumnya, ketegasan Febi telah berhasil menutup kelemahan Sheila. Sekarang tidak ada lagi Febi. Polwan cantik itu tengah tergolek di rumah sakit. Hanya ada Sheila. Wanita penggemar donat yang lugu namun harus berhadapan dengan rimbunnya hutan birokrasi.

Saya mau bertemu Pak Wakil Bupati, ujar Sheila setibanya di depan pintu bertuliskan WAKIL BUPATI. Orang nomer dua di pemerintahan.

Serombongan orang yang semula duduk santai didalam ruangan tersebut Nampak terkejut dengan kemunculan tiga orang muda berpakaian kemeja putih dan celana hitam. Penampilan mereka yang bagai orang biasa membuat para penunggu ruangan menyambut mereka ala kadarnya.

Pak Wakil tidak ada!. Jawaban ketus wanita dalam ruangan menyambut Sheila.

Untuk sesaat Sheila berdiri ragu di depan pintu. Beberapa pikiran telah terlintas dibenaknya. Sebagian besar berisi kebingungan. Kebanyakan keraguan.

Saya mau bertemu dengan Pak Wakil Bupati!, Sheila mengulangi permintaannya sambil menghitung berapa orang staf yang menunggui ruangan ajudan Wakil Bupati. Satu, dua, ..enam. Ada enam orang di dalam ruangan dan tak ada seorang pun dari mereka yang tampak ramah terhadap kedatangan Sheila.

Kan udah dibilang, Pak Wakil tidak ada, seorang staf laki-laki bangkit dari tempat duduk menghampiri Sheila.

Dengan penuh kesombongan laki-laki muda itu hendak memamerkan siapa dirinya. Seorang Pegawai Kantor pemerintahan yang ditugaskan sebagai ajudan. Sheila menatapnya dengan tenang. Entah kenapa keraguan yang semula hadir di tubuhnya berangsur sirna saat melihat aksi arogan si ajudan.

Jadi silakan Mbak dan teman-teman pulang saja!, ajudan mengucapkan kalimat bernada perintah.

Teman Sheila tampak mulai terpancing dengan aksi birokrat muda dihadapannya dan bersiap menghardik balik. Sheila menyadari hal ini dan segera merentangkan tangannya sebagai isyarat agar kedua temannya tidak terpancing dengan tindakan penuh arogansi ini.

Mas.., Sheila menatap papan nama si pegawai mencari namanya, .Aldi! kedatangan kami membawa surat ini!, direntangkan sehelai surat tepat di muka sang ajudan . Bacalah!, Sheila menjaga nada suaranya agar tidak mengandung kesombongan. bagaimanapun instansinya melarang segala bentuk arogansi.

Ajudan laki-laki yang semula begitu sombong mulai membaca surat yang dihamparkan Sheila. Saat dirinya menatap simbol anti korupsi yang tercetak jelas di atas surat, segala kesombongannya sirna.

***

Pak Ramlan menatap puing-puing gedung yang terbakar. Dia tersenyum sinis.

Kebakaran disebabkan oleh korsleting listrik Pak, staf kepercayaannya, Zul berdiri disampingnya.

Kata siapa??, nada sinis belum lepas dari suara Ramlan.

Pegawai pemadam kebakaran Pak yang…

Zul menghentikan laporan. Sudah lebih dari lima tahun dia mendampingi Ramlan bertugas di anti korupsi. Dia hapal betul karakter dan mood sang pemimpin hanya dari melihat ekspresi wajah. melihat ekspresi Rmlan yang memicingkan mata dengan dingin membuat Zul sadar telah membikin kekeliruan.

Selidiki lagi!, Ramlan berteriak gusar, SELIDIKI SENDIRI ZUL! JANGAN PERCAYA LAPORAN! SIAPAPUN!.

SSsssiiiiiaaapp Pak.

Sepeninggal anak buahnya, Ramlan kembali termenung menatap puing-puing reruntuhan. Gedung ini sengaja dibakar. hanya itu satu-satunya dugaan Ramlan menatap lokasi kejadian. Laki-laki yang telah banyak makan asam garam kehidupan ini sadar tengah menghadapi sebuah tantangan dari musuh yang tidak biasa.

Kemarin malam detasemen anti korupsi telah melakukan tangkap tangan. Selayaknya semua hal akan berjalan dengan mudah. Namun ternyata ada dalang lain tengah berdiri teguh membela Bupati yang telah mereka tangkap. Para dalang telah berhasil membuat situasi remis dalam satu malam.

Bukan hanya bukti kunci telah dilenyapkan, Febi, anak buah, yang meskipun sering membuatnya jengkel, juga dilumpuhkan oleh mereka. Ramlan telah memastikan pelakunya harus diringkus hari ini juga. Bukan hanya melumpuhkan pion terkuatnya para dalang dibalik kejahatan ini juga telah membakar bukti utama yang membuat peta pertarungan kembali bergerak di titik nol.

***

Dion kehilangan kesabaran terhadap sikap petugas rumah sakit. Sedari tadi dia berusaha agar diijinkan masuk ke dalam ruangan pasien tapi para petugas selalu menolaknya. Sebagai wartawan sebuah stasiun teve papan atas, Dion sudah mencoba langkah jitu andalannya. Menggunakan pengaruhnya guna menakut-nakuti target. Sayang, untuk kasus ini, jurusnya gagal.

Pihak anti korupsi telah memerintahkan para petugas RS agar mengerahkan pengamanan ekstra bagi pasien bernama Febi. Sebuah nama yang sangat bererti dihati Dion. Masih hangat ditelinga Dion bagaimana sikap ramah sang Polwan di ruang konfrensi pers. Tiba-tiba saja gadis pujaannya dikabarkan telah tergeletak dijalanan akibat kecelakaan sepeda motor.

Kecelakaan yang tak akan dipercayai begitu saja oleh Dion. Dia wartawan handal. Melihat sebuah berita selalu dari kedua sisi, bahkan lebih. Bukan hanya melihat dari kulit, tapi juga dari isi, bahkan berusaha selalu masuk lebih dalam menembus esensi terdalam dari sebuah kasus yang terjadi.

Febi bukan pegawai anti korupsi sembarangan. Demikian Dion menyimpulkan. Wanita cantik ini telah menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi dalam seminggu terakhir. Terakhir dia memimpin secara lugas aksi tangkap tangan kepada seorang Bupati dan pelaku gratifikasi. Wanita yang menjengkelkan karena kekerasan hatinya tapi juga sangat menggairahkan sisi hati Dion yang haus akan cinta.

Dion semula tak paham arti cinta. Pengalamannya bekerja siang malam menghapus kata ci8nta dari kamus hidupnya. Buatnya kata cinta hanya diperuntukkan bagi anak remaja. Bukan untuk orang dewasa dengan pekerjaan matang sepertinya. Siapa sangka cinta memang punya kekuatan besar untuk merubah seorang manusia. Tanpa pandang bulu cinta telah menyengat hati seorang wartawan.

Kini Dion harus melakukan segala cara guna melihat langsung keadaan wanita yang telah membuatnya tergila gila. Segala cara termasuk mengancam pegawai RS yang mengahalanginya.

Saya akan angkat pelayanan buruk rumah sakit ini di teve seminggu berturut-turut NGERTI KALIAN!, arogansi Dion bangkit oleh sikap tidak kooperatif mereka, hancur citra rumah sakit manapun bila sudah dikupas tuntas oleh kami!.

Para petugas rumah sakit diam dengan penuh ketakutan.

Jurus andalan Dion berhasil. Mereka takut. Bagi wartawan sifat takut pertanda baik.

Kamar 12 ruang mawar, seorang petugas laki-laki menjawab, hanya itu yang dapat kami informasikan. Kami belum punya kewenangan untuk menerangkan hal lain.

Dalam hati Dion tertawa penuh kemenangan.

***

Akkkkkhhhhakkkkkhhhhhhh..OOoooommmmm.

Crrrrrooottt crrrooottt croootttt.

Tumpahan sperma deras tertumpah di bibir seorang wanita muda yang terbaring di sebuah ranjang mewah hotel berbintang.

AAAAAAGGGGHHHHH, teriakan penuh nikmat mengiringi aliran sprema berwarna putih kental dari seorang pria dewasa.

Haaahh.haaahhhh, rasanya sudah puluhan kali Sofyan menumpahkan spermanya ke mulut maupun rahim wanita-wanita kelas atas namun dia tak pernah puas.

Dia sebenarnya ingin berlama-lama di ranjang bersama si molek namun di ruang tamu kamarnya tengah menunggu seorang tamu penting. Tamu special yang bukan hanya memasoknya dengan wanita yang baru saja disetubuhi, tapi juga dengan banyak uang. Uang dalam jumlah banyak sangat diperlukannya bila masih ingin menduduki posisi sebagai wakil rakyat.

Baju kimono hotel yang terbentang di hanger lemari dambilnya untuk membungkus tubuh. Dengan malas Sofyan melangkah ke ruang tamu.

Gimana Pak Sofyan wanita pilihan saya?? memuaskan??.

Seorang pria paruh baya duduk tenang di sofa mewah hotel. Kakinya ditumpangkan ke meja sambil wajahnya menampakkan raut penuh muslihat. Sofyan tidak pernah menyukai orang ini, tapi dia tidak punya pilihan. Di tempatnya laki-laki ini adalah penguasa.

Binal banget tuh cewe, dapat dimana kamu cewe kayak dia Pak Juki??, penisnya masih mengeluarkan sperma dan tegang. Sofyan harus membetulkan letak celana agar bisa menyembunyikan ereksi penis. Dia duduk dengan rikuh. kenikmatannya masih belum tuntas.

Wanita kelas atas! kalo bapak suka saya akan kirimkan secara rutin tiap minggunya langsung diantar ke tempat aman. Sekarang kita langsung ke masalah utama..

Sofyan mendengarkan seksama. Satu karakter yang tak pernah berubah dari laki-laki dihadapannya; dia tak pernah basa basi. Dulu waktu Sofyan masih seorang calon legislative opurtunis di daerah mendekati orang ini bukan perkara mudah. Dia adalah orang kepercayaan Bupati. Tangan kanan kepercayaan. Proyek apapun harus melalui dia.

Sebagai politikus Sofyan lambat belajar hukum tarik menarik kekuasaan ; segala sesuatu dinilai dari kepentingan. Semakin cepat Sofyan dapat menunjukkan dirinya kompeten, khususnya dalam cara meraih kekuasaan, semakin cepat para penguasa meliriknya. Mereka memerlukannya guna memuluskan kepentingan.

Sofyan telah membantu Bupati menjungkalkan lawan dalam pemilihan. Pengkhianatannya di detik terakhir pada calon lain membuat Bupati dapat terpilih dalam satu putaran. Sejak saat itu, lingkaran kekuasaan Bupati merangkulnya dengan erat. Termasuk Juki orang yang sedang bicara.

Gunakan pengaruh Bapak di pusat guna mempengaruhi pengadilan!, Juki mengucapkan kata itu dengan intonasi perlahan dan meyakinkan, sebagai anggota Dewan bapak pasti bisa!, nada penegasan sekaligus paksaan terdengar di telinga Sofyan.

Anggota dewan yang baru saja menunaikan hajatnya, menarik nafas panjang. Bukan tugas ringan. Semalam dia baru saja melihat aksi tangkap tangan di televisi. Mereka menangkap orang yang telah berjasa menjadikannya seperti sekarang. Cepat atau lambat Sofyan tau akan diminta balas jasa. Rupanya hanya satu hari sejak Bupati ditangkap permintaan itu datang.

Sofyan menjelaskan secara singkat kepada Juki bahwa dia akan melakukan yang terbaik. Segala koneksi yang dimilikinya di pusat akan dipergunakan guna membebaskan sang bupati. Tapi ada sebuah pertanyaan yang dia utarakan. Mampukah mereka melawan detasemen anti korupsi?? bukankah belum pernah ada yang pernah melawan mereka dan berhasil??.

Mereka semua penakut! kami tidak!, ada nada emosi terlontar dari bibir tangan kanan Juki, kami akan lawan mereka! SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN.

***

Dion menyelinap dengan tambahan wig dan janggut palsu mendekati ruangan kamar nomer 12 ruang mawar. Penyamaran kecil merupakan hal biasa buat wartawan. Para kuli media biasa menyamar dengan ataupun tanpa aksesoris guna memperoleh berita. Bukan hanya itu gadget-gadget aneh seperti kamera dalam jam tangan maupun ballpoint juga menempel dalam tas kerja agar setiap saat dibutuhkan tersedia. Berita hadir setiap detik. mereka perlu semua perlengkapan yang dibutuhkan.

Dengan langkah yakin Dion berjalan. Tidak boleh melangkah secara ragu. Para penjaga pasti akan curiga. Ini misi cinta. Bukan sembarangan tugas. Demi hatinya yang telah disengat oleh Febi, Dion akan berjuang. Segala penghalang akan ditabraknya meski itu dari dua orang polisi yang sedang berdiri tak jauh dari ruangan kamar nomer 12.

Sudah kepalang basah. kata Dion.Dia telah melangkah sejauh ini. Tidak boleh kembali hanya karena keberadaan kedua orang petugas berpakaian lengkap. Dia akan menerobos masuk ke kamar dua belas dan ketika dihardik petugas, Dioan akan bertingkah seolah salah masuk ruangan. Sebuah skenario telah tersusun,. Sekarang waktunya meneguhkan hati.

Dion membuang semua keraguan dan melangkah cepat tanpa mempedulikan kedua petugas yang meski pada awalnya tidak terlalu memperhatikannya mulai memandangnya karena gerakannya menuju kamar dua belas.

Langkah Dion dibuat seolah dia tidak menuju kamar dua belas tapi akan menuju kamar tiga belas disampingnya. Sampai ketika pintu kamar dua belas tepat berada di sebelah kanannya, Dion membukanya dengan yakin.

Cklek, pintu dibuka.

HEEEIII KAMU!, kedua petugas berteriak sembari berlari kencang menuju Dion.

Wartawan muda tak mempedulikan mereka. Di kepalanya hanya ada sebuah keinginan memandang sang kekasih. Kekasih?? apakah Dion sedang mengkhayal??. Sedangkan wanita yag hendak ditemuinya sama sekali belum pernah menunjukkan ketertarikan terhadapnya. Lantas kenapa dia ingin memandang wajah seorang wanita dengan imbalan terlampau besar??. Polisi yang berlari dibelakangnya telah berlari cepat mengunci kedua pergelangan tangannya dan membuat gerakan kuncian yang mematikan.

dalam hitungan detik dagu Dion telah menyentuh lantai rumah sakit dengan sepasang tangan kokoh mengunci kedua tangannya. Pandangannya hampa. Mulutnya ternganga bagaikan orang gila. Polisi dibelakangnya mulai menendanginya dengan brutal.

Duuuuggg.duuuugggduuuuggg, bunyi sepatu laras bertemu dengan tulang tak sanggup menghentikan kerisauan di hati Dion. tatapan sang kekasih yang dapat menghilangkan dukanya. Alasannya berjuang menghadapi segala resiko. kemanakah gerangan dikau wahai kekasihku Febi. kemanakah senyummu yang kurindukan. Baru semalam kita bertemu dan engkau tersenyum kepadaku, tapi kini aku telah kembali rindu pada keindahan untaian senyummu.

Rraaaannnjaaangg,terbata-bata Dion meminta mereka melihat ke arah ranjang denga kedua Polisi yang menendanginya mengikuti nada putus asa dari laki-laki yang telah mereka tendangi. pandangan kedua polisi menatap ranjang kosong yang telah kehilangan seorang pasien.

***

Ma, kita mau beli apa ke mall??, seorang anak kecil bertanya pada ibunya.

Hari ini angkot jurusan yang mereka tumpangi tidak ramai. Hanya ada beberapa orang saja yang naik. Anak kecil sangat senang ketika berjalan-jalan ke pusat perbelenjaan. Dia dapat membeli banyak mainan di sana.

Si anak sangat gembira dengan bayangan banyak mainan yang akan dibelinya. Dia tidak terganggu dengan rintik hujan yang turun di luar dan seorang penumpang aneh dengan bau obat dari rumah sakit masih menempel dengan sangat melekat ditubuhnya. Dengan kepolosannya anak itu menawarkan segelas air mineral kepada si penumpang, yang langsung diterimanya dengan ramah dan diminum cepat.

Kasian Mbaknya lagi sakit!, sang ibu membelai rambut sang anak dan senang dengan keramahan hati yang telah ditunjukkan buah hatinya.

Si anak kembali menatap riang ke arah penumpang wanita dihadapannya sehabis menerima usapan lembut dari ibunya.

Kakak??, ujar anak kecil.

Hmmmm, dengan masih menahan sakit penumpang itu berusaha memperhatikan si anak.

Ada yang ngikutin kakak lho dari tadi.

Penumpang yang terlihat sakit tiba-tiba menoleh cepat kiri dan kanannya dengan irama seorang aparat yang handal. Sejauh dia memandang hanya bangku kosong yang terlihat. Dia memicingkan matanya kepada si anak dengan heran saat memperhatikan tidak ada yang mengikutinya.

Bapak pake baju jas putih dari tadi ngikutin kakak, sang anak kecil menunjuk bangku kosong.

Penumpang cantik terdiam dalam bingung.

BERSAMBUNG

Author: 

Related Posts