Cerita Sex My Boss!!! – Part 6

Cerita Sex My Boss!!! – Part 6by adminon.Cerita Sex My Boss!!! – Part 6 My Boss!!! – Part 6 MY BOSS PART 6 Sheila POV Semalam harus dijadikan daftar hal-hal terburuk sekaligus menyenangkan dalam hidupku. Aku benar-benar dimanfaatkan lelaki itu. Ini tidak bisa dimaafkan. Walau harus diakui, permainannya itu luar biasa. Hehe. Kulirik sebuket bunga yang tadi pagi diberikan Mang Ujang, salah satu office boy di kantorku. Satu nama […]

Fv7MigiiVrFpYE1mktgL  fyVZ5ieusbMy Boss!!! – Part 6

MY BOSS PART 6

Sheila POV

Semalam harus dijadikan daftar hal-hal terburuk sekaligus menyenangkan dalam hidupku. Aku benar-benar dimanfaatkan lelaki itu. Ini tidak bisa dimaafkan. Walau harus diakui, permainannya itu luar biasa. Hehe. Kulirik sebuket bunga yang tadi pagi diberikan Mang Ujang, salah satu office boy di kantorku. Satu nama yang tertulis di kartu kecil berwarna merah muda itu menyegarkan ingatanku kembali. Arya Wiguna, Manajer dari divisi keuangan tempatku bekerja sekaligus atasan Ami.

Aku tak begitu mengenalnya. Tetapi aku ingat momen saat aku menamparnya karena dengan tidak sopannya dia mengajakku berhubungan seks padahal baru beberapa hari aku bekerja. Sejak itu dia suka cengar-cengir tak jelas bila bertemu denganku. mungkin otaknya sudah rusak. Mungkin juga kebanyakan akses www.18tahun.tk. huh. Dikiranya aku mempan dengan SSI-nya yang kacangan itu. weks. Tidak sama sekali. Lelaki itu adalah salah satu daftar orang-orang yang harus kuhindari keberadaannya. Karena dia hanya menginginkan tubuhku saja. Haahh. Aku tak butuh lelaki seperti itu. di usiaku yang ke 25 ini, aku memerlukan lelaki yang serius dan berkomitmen. Bukan hanya sekedar hubungan fisik belaka.

Katakan aku social climber, matrealistis atau apapun, hal itu memang benar adanya. Namun aku juga bukan orang yang sembarangan memilih pasangan hidup. Percaya atau tidak, menikah itu adalah hal yang seharusnya dilakukan sekali seumur hidup. Hm, mungkin dua kali bila pasangan kita meninggal. Tapi pilihan kedua aku harap tak pernah terjadi. Dan menurutku menikah bukan hanya soal menghasilkan keturunan. Memangnya aku anak kucing yang suka beranak pinak apa? Well, dalam hal ini aku benar-benar ingin mendapatkan pasangan hidup yang dapat bertanggung jawab secara materil dan moril terhadapku dan keluargaku kelak. Bayangkan saja ketika kita menikah dengan pria yang hanya punya materi, tetapi tidak memikirkan kebahagiaan anak istrinya? Pendidikan anaknya, moral mereka, apakah anak kita suka berbohong dan akhirnya korupsi bila mereka tua kelak. Sementara ayahnya sibuk main-main dengan wanita lain, padahal anaknya juga suka digarap oleh om-om seumur ayahnya? Hih. Aku tak mau itu terjadi. Pokoknya si Arya itu tidak masuk dalam kriteria pasangan hidupku. Tidak sama sekali!

BRAKK!!!

Suara gebrakan meja yang terdengar di telingaku membuat fungsi otakku bekerja normal seperti semula. Sebuah tangan dengan map yang dipegangnya memacu detak jantungku. Matanya melotot, tangannya menunjuk-nunjuk salah satu huruf di sana. Mati aku. Mati.

Kamu ini gimana?? saya suruh tulis laporan begini saja gak becus. Ini harusnya 20 persen! Bukan 2 persen! Kamu tahu akibatnya bila salah seperti ini? Yang bener dong! Pantesan aja kerjamu kacau! Pikiranmu kemana-mana!

Astagah. Kemana bos gantengku yang kemarin sangat lembut dan hangat penuh canda? Kenapa sekarang dia seperti harimau ngamuk?? Jangan-jangan dia kerasukan harimau putih. Dih itu tidak mungkin.

Ma.. maaf pak. Lain kali saya akan melakukannya dengan baik. Jawabku. Jantungku mau copot astaga.

Sepertinya bosku menyadari kegugupan yang terdengar dari suaraku. Sesaat dia menghela nafas.

Perbaiki. Perintahnya. Aku menurut, membuka-buka lembar laporan itu. Hh. Kuakui, aku salah dan kurang teliti mengerjakannya. Tak ada alasan. Hm mungkin kemarin aku sempat melamun gara-gara tak punya uang. Tapi sekali lagi. Itu memang salahku. Hiks. Aku salah bos. Maaf.

Oh ya. Meeting nanti malam kamu ikut saya. Setelah ini siap-siap kita langsung pergi. Ucapnya irit, kemudian pergi melenggang ke ruangannya. Perasaan sekarang sudah sore? Sudah jam 4 lewat 15 menit! Waktunya pulang sebentar lagi Dan apa katanya tadi? Ikut dia? Lalu pekerjaanku bagaimana? Bukannya tadi dia bilang harus segera memperbaiki laporan ini, Berarti 15 menit dari sekarang aku harus pergi dengannya? Sial. Mimpi apa aku dapat bos kayak gini. Nasib..nasib.

Drrrtdrrtt.. getaran benda elektronik di mejaku terasa jelas menyentuh lengan kiriku. Sebuah pesan dari whatsapp muncul di layar handphoneku yang berwallpaper gambar lelaki tampan sedang tersenyum seksi. Hah? Tunggu! sejak kapan wallpapernya berubah? Dan siapa ini? Bukankah ini bosku? Apa maksudnya dia menyentuh handphoneku dan mengacak-acaknya sembarangan!! Lihat saja! Tunggu pembalasanku! Dasar bos tak tahu malu! Tapi, dia kok mirip Jonas pacarnya asmirandah ya kalo posenya lagi begitu. Hehe. Hush. Hapus pikiran ngawurmu itu!

Sheila, apa kau ada rencana nanti malam?

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal sedikit menggangguku.

Maaf, siapa? , balasku

Kau tak tahu? Pengirim bunga tadi pagi?

Huh? Pak Arya? Sejak kapan dia tahu nomorku? Hah. Sebodo ah.

Oh. Pak Arya. Makasih bunganya. Nanti malam saya ikut meeting dengan Pak Rendra.

Haha. Jawaban cerdas.

Wah sayang sekali. padahal aku bermaksud mengajakmu ke tempat makan favoritku. Mungkin lain kali?

Bagus.

Iya pak. Mungkin lain kali.

Baiklah. Bagaimana kalau besok?

Sial dia memaksa. Dengan cepat kuketik balasan untuk Pak Arya

Jawabanya nan

Rupanya ini yang kau lakukan. Pantas saja pekerjaanmu kacau. Suara di pinggir telingaku sontak membuat bulu kudukku merinding. jari yang kugunakan untuk mengetik seketika terasa beku. Tubuhku kaku, menatap layar handphone tanpa berusaha menoleh. Jelas aku tahu suara itu. Dan wangi mint bercampur rokok yang dimilikinya tak bisa kulupakan.

A..aku.. suaraku mencicit, berusaha agar tidak terpengaruh situasi yang bosku buat. Menutup aplikasi whatsapp secepat kilat. Sehingga wallpaper lelaki itu kulihat kembali. Sial. Bahkan wajahnya yang tersenyum di handphoneku kini terlihat bertanduk dan bertaring.

Sudahlah. Ayo ikut. Ucapnya menjauh dari tubuhku sambil mengencangkan dasinya dan membenarkan setelan jas yang dipakainya.

Maaf?

Kau tak mendengarku? Bukankah kubilang tadi kita akan meeting?

Ah..iya pak. Aku lemas. Tentu saja aku tahu. Itu hanya ekspresi kagetku karena karismanya. Siapa yang tidak kaget ketika dipergoki bosnya sedang main handphone di jam kerja? Huft. Untung dia tidak marah-marah seperti tadi. Oh iya laporan.

Pak, laporan tadi..

Besok pagi serahkan padaku.

Buseet. Dia kesambet jin kayaknya. Kejam. Padahal sekarang aku disuruh menemaninya dan entah sampai kapan selesainya. Artinya aku harus membawa pekerjaan ini sampai rumah? Hiks nasiib. Lelaki itu benar-benar punya kepribadian ganda. Bisa-bisanya. Setelah menyaksikan dan menerima perilaku seenaknya bosku itu. aku pasrah mengikuti maunya. Memang pada dasarnya pemimpin itu diberi sifat egois dan seenaknya. Jadi sebagai bawahan yang baik hati dan takut dipecat karena nyari kerja itu susah. Aku hanya bisa menurutinya. Mengikuti kemana dia melangkah saat ini.

Dan di sinilah aku, duduk di sampingnya, sementara dia asik mengemudi. Menciptakan keheningan di antara kami tanpa bermaksud memecahnya walaupun hanya dengan sepatah suara.
Iringan musik alami dari hembusan nafas dan laju kendaraan seolah mengerti keadaanku. Mereka terdengar merdu sekali walau saat-saat tertentu bisa sangat menyebalkan. Dan suara-suara inilah yang kuperhatikan sekarang, telingaku melebar, mendengar bunyi klakson sahut menyahut padahal mereka sudah tahu kalau lampu hijau baru dua detik menyala, sementara lima kendaraan di depan baru melaju sedikit. Sekilas kutatap wajah kaku bosku, dia masih tetap fokus mengemudi. Entah apa yang dipikirkannya.

Bahkan setelah sampai di lokasi meeting, kita masih melakukan aksi diam-diaman ini. Sebenarnya aku ingin mengajaknya bicara, tapi entah kenapa melihat wajahnya sedikit saja nyaliku langsung ciut. Apalagi tadi dia telah memarahiku cukup keras. Kupikir dia masih marah denganku. Aih.
Sekarang yang bisa kulakukan hanya memutar-mutar telunjuk di pahaku, kemudian mengaitkan jari-jariku hingga saling bertautan antara jari tangan kiri dan kanan. Hingga sebuah suara menyadarkanku.

Maaf saya terlambat. Ucap sebuah suara di sana. Aku mengangkat wajahku, kupikir dia adalah Tuan Ronald, pemilik perusahaan software yang sedang popular dengan pengembangan antivirus Arvast dan dipakai oleh beberapa perusahaan besar yang ada. Sudah bisa ditebak bukan? Wijaya Company akan menjalin kerja sama dengan perusahaan Ronald.

Oke. Tak masalah. Kami juga belum lama di sini. Oh ya. ini sekretarisku.. Rendra menjabat tangan Ronald dengan raut wajah hangat, kemudian tersenyum kepadaku. Huh. Bisa-bisanya dia melihatku dengan tatapan seperti itu. Padahal tadi sepatah katapun tak terlontar dari mulutnya. Aku mendelik padanya, tanda protes dengan sikapnya yang berubah-ubah.

Sheila Pak. Aku menjabat tangannya sambil tersenyum.

Hei, tidak usah seformal itu, panggil saja Ronald. Apa aku terlihat setua itu? jawabnya sambil merengut lucu. Aku perhatikan wajahnya memang belum terlihat tua,mungkin sekitar 30an lebih, tak berbeda dengan bosku. Sekilas kulihat sosoknya, rambutnya sedikit cokelat di sisir ke belakang, tubuhnya lebih tinggi sekitar 3 cm dari bosku. Dia memakai kemeja hitam berlengan pendek dengan celana jeans. Aku pikir dia jenis orang yang santai. Aku suka gayanya.

Baiklah.. um. Ronald? ujarku ragu. Kemudian dia tersenyum, dengan bola mata hitamnya yang membuatku merasa hangat. Aku yang baru sadar bahwa telapak tangan kami belum berpisah berusaha melepaskannya dengan sopan. Namun seolah tak peduli dia malah semakin erat menjabat tanganku, mengangkatnya ke depan wajahnya, tatapannya tak lepas dariku.

Senang berkenalan dengan wanita cantik sepertimu. Katanya sambil mengecup punggung tanganku. Darahku berdesir menerima perlakuannya. Katakan ini norak, kampungan atau apapun itu. Melakukan hal memalukan begitu di tempat umum, dengan kecupan di tangan ala pangeran Eropa? Tapi percayalah, kadang-kadang wanita senang dengan hal-hal klasik, dan yang paling utama adalah spontanitasnya. Aku yang kini tak peduli lagi lingkungan sekitar merasa melayang dengan perlakuannya. Bagiku, dia romantis dengan spontanitasnya. Kecupan itu terasa alami, tak dibuat-dibuat, dan sukses membuat jantungku hampir melompat. Tindakan mesra tak terduga adalah salah satu hal yang selalu sukses membuatku terpesona.
Well, inilah aku. Merasakan wajahku menghangat karena perilakunya. Tapi hal itu tak berlangsung lama. Seseorang di sampingku tiba-tiba merangkul pundakku, meremasnya dengan sedikit kuat. Bosku kembali dengan wajah dinginnya. Aku lupa di sini ada bosku. Ronald melirik sekilas, namun tak ada perubahan yang berarti dari ekspresi wajahnya.

Mari silakan duduk. Anda ingin memesan makanan? Rendra memberikan ekspresi ramahnya seperti awal ketika bertemu Ronald, tapi reaksi tubuhnya padaku sangat kontras. Sialan. Dia pintar menyembunyikan emosi. Mataku dan Rendra bertemu pandang, aku sadar sesadar-sadarnya kalau saat ini tatapannya seolah berkata padaku Jangan macam-macam, membuatku meringis seketika. Apalagi saat tangannya yang kini beralih menggenggam tangan kiriku, mengusap-usap pungung tangannya seolah terdapat kotoran di sana. Aku yang sadar akan hal itu berusaha melepaskan genggamannya namun dia malah semakin kuat. Huh. Dia menyebalkan.

Setelah beberapa lama, kekakuan yang sempat terjadi antara aku dan bosku akhirnya mencair. Digantikan dengan Pembicaraan bisnis antara Rendra dan Ronald setelah menyantap makan malam kami. Mereka membicarakan tentang keinginan Rendra memakai software yang diproduksi oleh perusahaan Ronald untuk keamanan perusahaan Wijaya Co. yang akhir-akhir ini sedang kurang baik. Beberapa informasi perusahaan yang cukup penting sempat diketahui oleh perusahaan saingan. Menurut penyelidikan yang telah dilakukan, kebocoran info itu dikarenakan keamanan data mereka telah dibobol dengan cara yang tidak sehat melalui perangkat teknologi yang mereka punya. Hingga kepopuleran Software yang dimiliki Ronald sekarang menjerat hati Rendra untuk memakainya.

Semua itu berlangsung lancar sesekali Ronald menatapku di sela-sela pembicaraannya, dan aku hanya bisa tersenyum sambil sekali-sekali ikut dalam pembicaraan mereka. Hingga kantung kemihku tiba-tiba menjadi penuh. Aku yang tidak bisa menahannya segera meminta izin untuk pergi ke toilet, meninggalkan dua pejantan itu dengan bisnis mereka.

*** ***

Setelah pertemuan itu, aku pulang dengan Rendra menuju apartementnya. Kebekuan itu kembali terjadi. Entah apa yang dipikirkannya. Yang kutahu sekarang adalah aku tanpa sadar memperhatikan sosoknya yang sedang mengemudi, tangannya yang memegang setir terlihat menggoda untukku. Apalagi saat kuingat malam kemarin ketika tangan itu menelusuri setiap inchi tubuhku. Pundaknya, ingin sekali aku bersandar di sana. Pandanganku turun ke sekitar bawah perutnya. Membayangkan ereksinya yang luar biasa kemarin membuat pipiku menghangat.

Kalau sekarang aku sentuh, bosku marah tidak ya? hah.. tentu saja tidak. Dia pasti akan senang dan cengar-cengir mesum. Bahkan kalau saat ini dia mengajakku melakukan seks di dalam mobil sepertinya aku tidak akan menolak. Haa. Bodoh. Sepertinya aku terjerat pada pesona seks si mesum ini. Ckck. Tidak. Tidak. Ini tidak boleh terjadi.

Hm. Tapi sepertinya itu bukan ide buruk. Mungkin itu bisa meremukkan kebekuan ini. Sungguh aku tidak suka mendapatinya tidak bicara sepatah katapun padaku.. aku yang sedari tadi melirik pangkal pahanya antara sadar dan tidak menjulurkan tanganku, berusaha meraih onggokan daging yang meringkuk tertidur dibalik celana hitam bosku. Hap. Tak sampai dua detik aku menangkapnya, dia benar-benar sedang tertidur lelap. Sedetik kemudian kaki bosku bergerak, mobilnya sedikit berbelok tak fokus. Matanya terbelalak menatapku.

Hei.. kau..astaga.. aku sedang menyetir.. ucapnya terpatah-patah. Perlahan tapi pasti, onggokan daging yang meringkuk itu kini menggeliat sedikit demi sedikit ketika kumainkan, Rendra menarik nafasnya dalam. Sheila..hentikan.. nanti dia bangun..akh..

Dia sudah bangun. Ucapku sambil mengelus-elus bagian luar celana bosku.

Aku tahu.. tapi..akh.. ini jalan raya..nanti saja..astagahhh aku tak menggubris. Siapa suruh dari tadi mengabaikanku. Huh. Rasakan pembalasanku. Tapi Rendra yang tampan itu memang selalu bisa mengendalikan situasi. Dia menangkap tangan nakalku, menyingkarkannya dengan sopan.

Nanti sayang.. sekali lagi, kalimat sayang itu meluncur dari mulutnya. Membuat jiwaku melayang jauh sekali.
Aku cemberut, menggigit bibirku kesal.

Gadis nakal, aku janji kau bisa memainkannya sepuasmu saat kita sampai nanti. Dia tertawa pelan sambil mengusap kepalaku. Aku tahu dia menertawakanku. Sial. Padahal aku sudah melawan gengsiku untuk dapat menyentuh mainan lezatku itu. Tapi dia seenaknya menolak dan menyingkirkan tanganku!!

Aku tidak mau!! Memangnya siapa yang mau nanti? Aku mau sekarang! cibirku emosi. Astaga. Sejak kapan aku jadi wanita tak tahu malu begini??

Haha. Iya nanti ya sayang. Rendra terbahak puas. Sialan.

Dia malah menertawakanku sepanjang jalan. Bahkan di lift pun dia sempat-sempatnya memegang perut menahan tawa. Tak mempedulikan lirikan aneh orang-orang penghuni apartement yang bersamaan menaiki lift. Aku kesal Tuhan. Dia iblis menyebalkan. Dengan menghentakkan kaki aku menuju pintu apartementnya dan masuk dengan wajah merengut kusut. Masuk ke kamar Rendra dan mengunci pintunya. Sekilas aku melihatnya terbelalak.

Hei.. kenapa kau menguncinya? teriaknya dari luar. Rasakan. Tak kupedulikan dia yang sibuk mengetuk-ngetuk pintu kamarnya sendiri.

Aku menyeringai puas sebelum kemudian dahiku berkerut saat mencari pakaian ganti untuk kupakai malam ini. Koperku telah kosong. Tak ada barang apapun di dalamnya. Digantikan dengan peralatan kosmetik di meja rias yang tertata rapi, saling bersebelahan dengan milik Rendra. Tak sampai di situ peralatan mandiku juga bernasib sama. Hingga tempat terakhir yang kuperiksa adalah lemari Rendra. Dengan ragu aku membukanya, dan aku harus melongo melihat baju-bajuku yang sudah berderet indah di sana, sejak kapan dia melakukan ini? Tapi tunggu.. ada beberapa pakaian yang aku tak tahu. Jelas ini bukan milikku.

Kucoba menyentuh beberapa pakaian berwarna warni yang menarik penglihatanku. Menariknya dan mendapati beberapa pakaian aneh ini. Pakaian suster? Baju berenda dan berjumbai-jumbai? Pakaian hitam mini dengan topi kelinci? Lingerie? Apa ini milik wanita-wanita yang sempat berhubungan dengan Rendra?

Penasaran dengan kostum-kostum aneh itu aku membuka pintu kamar, melihat pemandangan indah di sana. Rendra dengan boxernya. Sayang aku tidak bisa bersiul.

Sayang..kenapa dikunci? ucapnya sambil mendekat padaku, tangannya terentang dari jauh. Aku tahu maksudnya.

Stop! tegasku sebelum dia melakukan hal lebih jauh. Dan sebuah pelukan adalah hal yang kupikir akan membuatku berlaku lebih jauh lagi.

Why?? ucapnya tak rela.

Kenapa barang-barangku dikeluarkan seenaknya? aku berkacak pinggang, meminta penjelasan darinya.

Tadi pembantuku datang. Aku yang menyuruhnya. Dia kesini seminggu sekali. sahutnya ringan sambil mengangkat bahunya.

Lalu..baju-baju aneh itu milik siapa? kejarku masih dengan kepenasarananku.

Baju aneh?

Aku mendengus. Tentu saja. Baju itu. baju suster dan baju berjumbai-jumbai dan baju seksi yang jelas bukan milikku!

Dia terdiam kemudian menghela nafas. Oh.. itu.

Apanya? Dia milik wanitamu? tanyaku tak sabar.

Wow. Melihatmu cemburu membuatku gemas sayang. Kedua tangannya mencubit pipiku gemas. Dia positif selalu membuat emosiku naik turun seketika.

Kalau milik wanitamu keluarkan! Pakaian itu membuatku mual! aku tak tahu kenapa tak ada penolakan dariku ketika dia mengatakan hal tentang cemburu. Ah sudahlah.
Hei.. tenanglah. Itu untukmu.

Aku berpikir. Untukku?

Iya. Besok libur kau harus pakai. Yang putih ya.. pakaian suster.

Apa? aku masih tak mengerti dengan ucapannya.

Besok kita main dokter-dokteran.
APAAA?????

Apa dia bilang? Do dok..dokter-dokteran? Mulai detik ini. Aku benar-benar sadar. Sesadar-sadarnya. Kalau lelaki seksi di hadapanku ini positif menderita kejiwaan akut. Ini mengerikan. Ternyata dia sakit jiwa!

Author: 

Related Posts