Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 30

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 30by adminon.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 30My HEROINE [by Arczre] – Part 30 BAB IX: MELACAK SI ANAK HILANG #PoV Ryu# Sebenarnya untuk melacak Yuda tak semudah mengucapkannya. Setelah tadi malam kami mengantarkan Micro-metal kepada profesor Andy, kami pun melacak keberadaan Yuda. Tentunya dengan sedikit bumbu spionase. Kami bertiga menyamar. Tapi sekalipun menyamar sepertinya kami tidak bakal kebingungan untuk menyembunyikan diri. […]

tumblr_nw4eypROXk1sij9l3o8_1280 tumblr_nw4eypROXk1sij9l3o9_1280 tumblr_nw4eypROXk1sij9l3o10_1280My HEROINE [by Arczre] – Part 30

BAB IX: MELACAK SI ANAK HILANG

#PoV Ryu#

Sebenarnya untuk melacak Yuda tak semudah mengucapkannya. Setelah tadi malam kami mengantarkan Micro-metal kepada profesor Andy, kami pun melacak keberadaan Yuda. Tentunya dengan sedikit bumbu spionase. Kami bertiga menyamar. Tapi sekalipun menyamar sepertinya kami tidak bakal kebingungan untuk menyembunyikan diri. Aparat kepolisian di negara ini juga banyak kerjaan, maka dari itu kami lebih menonjolkan low profile saja.

Paginya sebelum kami berangkat, papanya Hana-chan tampak sedikit marah. Ia melarang Hana-chan untuk pergi.

“Hana, itu berbahaya. Kalau mama tahu bagaimana?” tanyanya.

“Papa, ini kan tentang Yuda. Cuma Yuda satu-satunya harapan kita. Lagipula dua tamu kita dari Jepang ini mana tahu negara ini?” kata Hana-chan.

Paman Faiz menoleh ke arahku. Dia menghela nafas, seolah-olah aku ini benar-benar hopeless. “Baiklah kita perlu berkumpul semua. Tolong panggilkan kakekmu, juga Om Hiro. Kita berkumpul di ruangannya kakek.”

Pagi itu juga berkumpullah semuanya di ruangan kakek. Di lantai atas gedung paling atas. Sangat menakjubkan aku rasa. Berada di lantai paling atas gedung M-Tech, tempat di mana Faiz Hendrajaya penguasa Hendrajaya Group berada. Di sini berkumpul semua orang. Ada Faiz Hendrajaya, Hiro Hendrajaya, Jung Ji Moon, Paman Faiz ayahnya Hana-chan, ada juga mamanya, Profesor Andy dan kami bertiga. Minus Han Jeong karena dia sedang berlatih bersama ayahnya Yuda.

“Yuda sudah ketemu?” tanya Faiz Hendrajaya.

“Begitulah ayah,” kata paman Faiz.

“Pasti Han Jeong sangat senang.”

“Tapi masalahnya kami tak tahu dia sekarang ada di mana. Kami hanya tahu kalau Yuda bersama teman sekelasnya,” kata Hana-chan.

“Oh, begitu. Trus sekarang?”

“Kami akan melacaknya, kek,” kata Hana-chan.

“Kalian? Itu berbahaya!” kata mama-nya Hana-chan.

“Mau bagaimana lagi ma? Ryu yang nyari? Malah dia nyasar nanti. Rina-chan juga sepertinya belum tahu banyak tentang Jakarta,” kata Hana-chan.

“Aku saja yang mencarinya,” kata mamanya Hana-chan.

“Jangan ma! Lalu yang jaga anak-anak siapa?” tanya papanya Hana-chan.

Tampak mamanya Hana-chan menghela nafas. “Tapi aku nggak tega pa, masa’ Hana dibiarin keluar? Apalagi aparat sekarang sedang mencari kita.”

“Jangan khawatir, aku akan menjaga Hana-chan. Maksudku, aku dan Rina-chan. Iya kan, Rina-chan?” aku menyenggol Rina-chan.

“Eh…i…iya,” katanya.

“Bagaimana Hypersuitnya mas?” tanya paman Hiro.

“Sebentar lagi selesai, setelah itu aku akan menyerahkan kepadamu Moon,” kata paman Faiz.

“Jadi, aku tak bisa mencari Yuda kalau begitu. Aku dan Moon ada hal yang harus diselesaikan dengan Hypersuit,” kata paman Hiro.

“Aku tahu kalian tidak tega melepaskan Hana, aku juga. Apalagi Hana kan anak yang fisiknya paling lemah di sini. Tapi itu adalah keputusannya. Kalian jangan khawatir, aku akan membantu sebisanya,” kata Faiz Hendrajaya.

“Tapi ayah, aku masih nggak tega,” kata paman Faiz.

“Junior, sudah waktunya generasi berubah. Sekarang sudah bukan jamanmu, jaman ini adalah milik mereka,” kata Faiz Hendrajaya. “Aku merasa, kita harus bergerak lebih cepat. Ryu, aku serahkan cucuku kepadamu. Jangan sampai lecet!”

“Hai!” aku menghormat kepada Faiz Hendrajaya.

Begitulah akhirnya, kami keluar dari gedung M-Tech, menyamar. Kami bertiga naik busway, yah seperti itulah. Tiga orang aneh berkeliaran di pusat kota mencari alamat Brooke yang Hana-chan dapatkan dari melihat data siswa di sekolah. Kami pun berputar-putar hingga akhirnya sampai di sebuah apartemen yang cukup mewah. Hwaaa, Brooke tinggal di sini?

Aku menaruh dua katana di punggung. Yang satu dari kayu yang satunya. Katana milik Masamune. Mungkin aneh juga sih orang-orang melihatku menenteng katana kemana-mana.

“Kamu nggak sarah kan Hana-chan?” tanyaku.

“Nggak. Beneran koq ini apartemennya,” jawab Hana-chan.

“Mewah ya, punyaku nggak seperti ini deh,” kataku.

“Hmm….sepertinya ada yang aneh,” gumam Rina-chan.

“Aneh kenapa?” tanyaku.

“Ah, nande mo nai, tak apa-apa. Tak usah dipikirkan,” kata Rina-chan.

“Di apartemen nomor 32,” kata Hana-chan.

Kami pun naik ke atas. Petugas sekuritinya tidak curiga. Mungkin karena disangka kami anak-anak biasa, akhirnya dibiarkan begitu saja naik ke apartemen. Begitu sampai di lantai yang dimaksud, Hana-chan mengecek setiap nomor apartemen, hingga akhirnya ia pun menemukannya.

“Lho, koq pintunya rusak ya?” tanya Hana-chan sambil menunjuk ke gagang pintu yang bengkok serta berlubang. Bentuknya seperti dijebol dengan paksa.

Aku mencegahnya untuk maju. Kemudian aku membuka pintu apartemen itu secara perlahan-lahan dan…… Uh oh? Siapa mereka? Aku melihat beberapa puluh orang memakai jas hitam menenteng senjata api. Mereka terkejut ketika aku membuka pintu.

“Oh, maaf. Saya sar masuk kamar,” kataku sambil mengangkat tangan. Aku segera berbalik dan merangkul Hana-chan dan Rina-chan. “Awaaas!”

RATATATATATATATATA! Suara senjata api semi otomatis memuntahkan pelurunya. Aku menubruk Hana-chan dan Rina-chan agar terhindar dari rentetan peluru.

“Apa ituuu??” tanya Hana-chan.

“Lari-lari dari sini! Cepat!” kataku.

Rina-chan segera berguling-guling ke samping. Hana-chan merangkak menjauhi apartemen. Aku berusaha melindungi Hana-chan. Kukeluarkan katana Zero-ku. Saatnya berubah.

“Zero Change!”

Aku berubah jadi Zero. Aku mendobrak pintunya dan berhasil mengenai satu orang. Mereka terkejut ketika teman mereka tak berdaya karena tubrukan daun pintu itu. Lebih terkejut lagi ketika melihatku.

“Jangan tembak aku, aku mohon karian akan….,” aku ingin menjelaskan bahwa armorku anti peluru, sehingga kalau aku ditembak bakal mental kemana-mana pelurunya.

Terlambat. Mereka menembakiku dan pelurunya mental kemana-mana. Sebagian mengenai salah satu dari mereka. Melihat peluru yang ditembakkan sia-sia mereka pun menghentikan tembakannya.

“Nah kaan, aku sudah birang, sebelum aku menghajar karian aku ingin tanya karian ini siapa dan apa yang karian rakukan di sini?” tanyaku.

Hening, mereka lalu mengambil sesuatu. Taser? Oh karena peluru tak mempan sekarang kalian memakai taser? Ayolah. Aku pun ditembak dengan menggunakan taser. Taser itu menempel di beberapa titik di tubuhku. Tubuhku mengejang seperti orang kesetrum. Mereka tertawa, tapi aku kan cuma gaya saja.

“Kena kalian, sudah kubilang aku nggak bakal mempan kalian apa-apakan,” kataku sambil melepas taser yang terhubung dengan kawat itu satu per satu.

Rina-chan pun ikut masuk. “HIyaaaaaaa!”

Oke, kalau Rina-chan sudah marah bakal mengerikan aku tak mau lihat.

BAK! BUK! CREP! JLEB! BAK! BUK! TRANG!

Terdengar teriakan-teriakan orang-orang yang ada di dalam apartemen itu. Rina-chan benar-benar mengamuk, dia menghajar semua orang itu tanpa ampun. Hingga akhirnya mereka pun ditumpuk di tengah ruangan. Semuanya di-KO ala ninja. Kecepatan gerak Rina-chan tak perlu diragukan. Aku hanya menghela nafas dan mengambil salah satu orang yang masih sadar. Aku kemudian menggeret dia keluar dari apartemen dan aku ancam dia di balkon. Hana-chan tampak berada di ujung lorong hanya kepalanya saja yang terlihat melongok ke arahku.

“Katakan kepadaku, karian ini siapa?” tanyaku kepada satu orang yang selamat dari amukan Rina-chan.

“Emangnya aku akan bilang begitu saja?” tanyanya

“Atau kamu ingin dihajar oleh Rina-chan?” tanyaku sambil menoleh ke apartemen itu.

Rina-chan pun keluar dengan katana terhunus.

“Bunuh saja aku nggak masalah. Kami telah dilatih untuk tak takut mati,” ujar orang ini.

“Rina-chan, orang ini tak takut mati katanya,” kataku.

“Tak usah dibunuh. Potong saja kemaluannya!” kata Rina-chan.

“Nani??”

Rina-chan langsung menebas celana orang itu. Aku mundur beberapa langkah. Dalam sekejap celana orang itu terlepas, berikut juga celana dalamnya. Hana-chan yang melihat itu langsung menutup wajahnya. Katana pun mengayun untuk kedua kalinya, saat itu aku baru melihat ketakutan di wajah orang itu.

“Aaaaakkk…i..iya, baik-baik aku akan bicara!” katanya. Sepersekian mili detik saja ia tak bicara Rina-chan benar-benar memotong kemaluan orang ini. Aku begidik, dasar transgender, nggak mikir apa kalau itu satu-satunya senjata laki-laki yang paling berharga?? Aku jadi ngeri kalau sampai menikahinya. Aku lebih suka Hana-chan.

“Kami adalah organisasi pembunuh bayaran The Continental,” akunya.

“Apa itu?” tanya Rina-chan.

“Organisasi pembunuh bayaran internasional. Dimana seluruh pembunuh bayaran profesional berkumpul.”

“Ada hubungannya dengan Hotel The Continental?” tanyaku.

“Itu markas kami, Main Headquarters.”

“Ah, jadi bener kan? Yuda nggak jahat. Dia menghancurkan tempat penjahat, kereeeenn! Han Jeong pasti bangga,” seru Hana-chan dari kejauhan.

“Lalu kenapa karian ke sini? Apa hubungannya dengan Broke?” tanyaku.

“Brooke? Dia bukan Brooke, dia adalah Red Assasin, Azkiya. Gara-gara dialah Hotel The Continental hancur. Kami disuruh oleh pemimpin untuk mencari dan membunuh dia bersama temannya, ternyata dia telah pergi.”

“Azkiya? Red Assasin? Kamu tak bohong?” tanyaku.

“Tidak, aku tak bohong. Dia memang pembunuh profesional! Potong saja deh kalau aku bohong.”

Aku, Rina-chan dan Hana-chan saling berpadangan walaupun dari jarak jauh. Brooke adalah Azkiya, Red Assasin. Trus apa hubungannya ama Yuda?

“Ceritakan kepadaku apa yang terjadi!” ancamku.

“Red Assasin ingin mundur dari profesinya, waktu itu ia membawa teman. Dan temannya tiba-tiba saja berubah jadi monster yang mengerikan sampai menghancurkan gedung kami tanpa sisa. Dan kami pun diutus untuk memburu mereka berdua.”

“Oh, Azkiya Red Assasin ingin mundur dari profesinya,” gumamku.

“Sudah ya, aku bisa dilepaskan. Aku harus pergi sebab kalau aku masih di sini dan gagal maka mereka berdua akan datang,” katanya sambil gemetar.

“Siapa yang datang?” tanyaku.

JLEB! Tiba-tiba sebuah shuriken menancap di kepalanya.

“KYAAAAAAA!” jerit Hana-chan.

Aku melihat orang suruhan itu pun tergeletak dengan mata terbelalak. Dia tewas seketika. Dari arah lain tiba-tiba ada dua orang yang berjalan di tembok. Hah? Ninja?

“Klan Hanagumo!” seru Rina-chan.

“Apa? Ngapain mereka ke Indonesia?” kataku.

Dari sebelah kanan aku melihat seorang Shinobi dengan cepat berjalan menuju ke arahku. Dan dari sebelah kiri seorang Kunoichi berjalan di tembok dengan cepat juga melesat ke arah Rina-chan. Baju mereka khas berwarna merah dan hitam. Bagaimana Rina-chan bisa mengenali mereka dari klan Hanagumo? Ada sebuah tanda gambar bangau di kepala mereka.

Celaka Hana-chan dekat dengan sang Shinobi. Dengan kecepatan superku, aku pun mendekat ke Hana-chan. Sedangkan Rina-chan menghadang sang Kunoichi. Benturan katana mereka tak terelakkan lagi. Aku langsung mendekap Hana-chan dan memasang badanku saat dia menebaskan pedangnya ke punggungku.

TRANG!

Katananya mengenai punggungku tapi karena armorku keras, jadi aku tak terluka.

“Hana-chan daijofu ka?” tanyaku.

“Aku..aku nggak apa-apa,” jawabnya.

“Pergilah, berlindung! Aku akan mengalahkannya,” kataku.

Hana-chan masih berdiri, ia shock. Sang shinobi mulai melempar shurikennya lagi. Aku pun menangkisnya sambil terus melindungi Hana-chan.

“Pergi!” kataku.

“I..iya Ryu-kun!” Hana-chan pun melompat dan berlari meninggalkan kami.

Sang Shinobi ini berdiri di depanku beberapa meter. Aku pun jadi tenang sekarang untuk menghadapinya karena Hana-chan sudah pergi.

“Karian dari klan Hanagumo?” tanyaku.

“Benar, kami dari klan Hanagumo. Namaku Kazuki. Kami diutus untuk menghabisi Azkiya Red Assasin dan juga orang-orang yang bersamanya. Kalau kalian ada di sini berarti kalian juga orang-orang yang bersamanya,” kata orang itu.

“Kazuki? Baiklah, namaku Ryu Matsumoto. Aku dari Dojo Kaze no Ryuu.”

“Samurai boy. Armormu cukup keras, tapi aku juga bisa seperti itu.”

“Hah? Yang benar saja.”

“Genji Armor!”

Dari gelang Kazuki muncul kabut berwarna hitam, berputar-putar menyelimutinya. Seketika itu Kazuki sang Shinobi memakai sebuah armor, lengkap dengan topengnya. Genji Armor?? Topengnya yang menyeringai seperti topeng prajurit samurai jaman dulu. Dan helmnya mempunyai dua tanduk melengkuk ke belakang. Ada yang berubah dari dirinya. Pedangnya lebih besar.

“Uso!” seruku.

“Kalau pedang ini, aku yakin bisa menebasmu,” katanya.

“Oh ya?”

Sang Genji Armor itu pun menerjang ke arahku dengan katananya. Kecepatannya gila, sama sepertiku. Aku menahan ayunan pedangnya. TRANG! Aku sampai terhempas karena dorongan pedangnya menghantam tembok apartemen hingga jebol. Aku sudah masuk ke apartemen orang, untung nggak ada siapa-siapa. Aku segera keluar dan pertempuran pun berlanjut di balkon.

Tenaganya kuat sekali. Armor itu seakan menambahkan kekuatannya berkali-kali lipat. Kedua katana kami beradu, suara dentingannya, ayunannya membuat udara di sekitar kami serasa seperti terpotong-potong. Kazuki mengayunkan katananya dengan menggila. Aku terus menahan, bertahan dan akhirnya karena dorongan tenaganya yang terlalu kuat kedua tanganku terayun ke udara. Saat itulah ia mendapatkan kesempatan menebas dadaku.

ZRRAASSHH! Gila dia menggores armorku.

Sebuah tendangan keras menghantam kepalaku, tubuhku pun terdorong hingga melompat dari balkon. Whoaaaa! Aku jatuh ke bawah. Di bawah ada mobil terparkir, aku pun jatuh di atasnya. BRAAK! Aku melihat Hana-chan tak jauh dari tempatku jatuh. Ternyata dia baru saja turun dari tangga.

“Ryu-kun, awaaass!” serunya.

Dari atas aku melihat Kazuki terjun dengan katana besarnya yang terhunus. Aku langsung melompat berguling sebelum Kazuki menusukkan katananya ke mobil tempat aku jatuh tadi. Aku menjauh beberapa langkah. Kulihat Kazuki dengan cepat berdiri lagi mencabut katana besarnya. Dia benar-benar mesin pembunuh.

Aku melihat armorku. Dadaku tergores, armornya tembus! Baiklah. Aku pun menyimpan pedang Zeroku. Aku mengeluarkan pedang Masamune. Katana ini aku keluarkan dari punggungku. Baja hitamnya benar-benar membuat siapapun yang melihatnya terkesima. Kazuki menghentikan langkahnya ketika melihatku mengeluarkan katana itu.

“Baja hitam? Oh, dari tadi ternyata kamu belum mengeluarkan apa-apa ya?” tanyanya.

Aku tak mungkin melawannya dari dekat. Karena katananya bakal membunuhku. Satu-satunya cara adalah aku mengeluarkan jurus Kaze no Ryuu Tsuki no Kiritoru. Tak ada cara lain. Aku yakin dengan pedang Masamune ini, aku bisa menghasilkan kekuatan yang lebih kuat lagi.

“Kazuki, pernahkah engkau melihat Naga Angin membelah rembulan?” tanyaku.

“Hmm? Apa itu?”

Aku memasang kuda-kuda, katana aku tegakkan menghadap ke bawah. Aku rendahkan tubuhku, ini adalah kuda-kuda Kaze no Ryuu Tsuki no Kiritoru. Jurus tertinggi Kaze no Ryu.

Kazuki sudah bersiap, dia pun tiba-tiba berlari menerjangku. Aku memusatkan tenagaku kepada ayunan. Ayunan pedang yang bisa membelah angin. Ayunan pedang naga angin, yang kekuatannya seolah-olah seperti membelah rembulan. Satu langkah ke depan dan aku pun menebaskan katanaku.

WUUUZZZZHHHH!

Aku sudah mengayunkan katanaku. Kazuki tiba-tiba langkahnya terhenti. Tentu saja dia terhenti, katana besarnya terpotong-potong oleh hembusan angin dari tebasanku, demikian juga armornya. Darah segar seperti air mancur mengucur dari tulang belikat membujur sampai ke perut dan kakinya. Kemudian disusul juga dari bagian tubuhnya yang lain. Helm genjinya dengan dua tanduk itu pun terbelah, tampaklah wajah Kazuki yang terbelalak. Di belakangnya tampak bangunan apartemen yang bentuknya sekarang baru saja seperti terkena tebasan pedang mengakibatkan sebuah celah menganga. Oh, tampaknya aku menggunakan kekuatan yang terlalu berlebihan. Apalagi aku memakai armor Zero.

Kazuki pun berlutut, lalu tubuhnya ambruk.

“Kazuki!” seru seseorang. Dia kunoichi yang tadi bersamanya. Rina-chan pun menghampiriku. Sepertinya mereka juga bertarung dengan sangat hebat. Sang Kunoichi tadi memegangi tubuh Kazuki. “Kamu tak apa-apa?”

Kazuki masih bergerak ternyata, luar biasa. Dia masih selamat ketika menerima serangan seperti itu. Benar-benar seorang ninja.

“Rina-chan, ayo kita pergi!” kataku. Hana-chan menghampiriku. Entah reflek ataukah Hana-chan memang sengaja melakukannya. Ia memegang lenganku.

“Aku akan membalas kalian!” kata sang kunoichi. “Aku Ukio, kunoichi dari klan Hanagumo, akan memburu kalian.”

“Aku telah siap Ukio, aku dari klan Akai Kage (Bayang Merah) siap kapanpun!” kata Rina-chan.

Aku melepaskan armor Zeroku. Berubah menjadi manusia biasa. Kusarungkan kembali katana Masamune. Kami pun segera pergi dari tempat itu. Sebab keributan ini pasti akan mengundang keramaian. Apalagi kami masih buronan, tentunya kami tak ingin hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Sekali lagi jejak Yuda masih belum terlacak. Tapi kami pasti akan menemukannya. Perjalanan kami untuk menemukan Yuda masih berliku.

(Bersambung………….)

Author: 

Related Posts