Cerita Sex Badai itu datang

Cerita Sex Badai itu datangby adminon.Cerita Sex Badai itu datangB A R B A R – Part 8 Badai itu datang Tiit..tiit..tiit Begitu bunyi alarm dari jam tangan yang tergeletak di samping meja belajarku. Konsentrasi belajarku seketika buyar. Aku meraih handphone di saku celanaku lalu menghubungi kedua temanku Rama dan Feni. Dengan tergesa-gesa aku melangkah menuju garasi yang terletak di samping kanan rumah. Ketika […]

multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-2 multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-11 multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-4 (1)B A R B A R – Part 8
Badai itu datang

Tiit..tiit..tiit

Begitu bunyi alarm dari jam tangan yang tergeletak di samping meja belajarku. Konsentrasi belajarku seketika buyar. Aku meraih handphone di saku celanaku lalu menghubungi kedua temanku Rama dan Feni.

Dengan tergesa-gesa aku melangkah menuju garasi yang terletak di samping kanan rumah. Ketika aku menstarter mobil, ibuku datang menghampiriku dengan raut wajah cemberut.

“Ger, kamu itu mau kemana nak?” tanyanya.

“Geger ada pe er yang harus diselesaikan malam ini ma.”

“Kenapa nggak dari tadi sih. Inikan sudah malam,” nada bicaranya meninggi seolah menghendaki aku untuk membatalkan niatku.

“Ma, Geger sebentar aja kok. Please ma,” pintaku memelas.

Aku melirik jam di tanganku yang sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Sementara sinyal alarm di jam tanganku masih tetap menyala.

“Ya sudah sana hati-hati yah. Kalau ada apa-apa segera kabari mama dan papa,” akhirnya dengan berat hati ibu mengijinkanku.

“Baik mamaku sayang. Mmmuuaahh,” setelah mencium pipinya aku menginjak gas lalu melengos pergi dengan mobil kesayanganku.

Sesampainya di lokasi ternyata mereka sudah tiba lebih dahulu dari aku. Tempat yang kami gunakan bertemu adalah gudang tua di samping balai desa yang sudah lama tidak digunakan. Selanjutnya tempat ini kami jadikan sebagai tempat bertemu dan latihan pada malam hari walaupun tidak setiap hari.

“Gabra,” salamku.

“Askar,” jawab Rama dan Feni serentak.

“Udah lama?” tanyaku.

“Baru aja Ger. Aku kebetulan lagi nginep di rumah mbak Feni,” jawab* Rama ragu. Dari raut wajahnya yang berbinar-binar terlihat sekali kalau mereka baru saja menyelesaikan tugas jasmani mereka. Bersetubuh, ya bersetubuh. Itu terlihat dari penampilan Feni dan Rama yang acak-acakan.

“Emmm…gini Ger..ehh..” Feni mencoba mencairkan suasana.

“Kutangnya beli dimana Fen? Hahahaha…” tawaku pecah melihat Feni yang hanya memakai kutang yang aku yakin itu adalah milik Rama.

“Sial, hahaha..” celetuk Rama sembari ikut tertawa.

“Hahaha…” kami bertiga tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah laku mereka berdua.

Kami melanjutkan pembicaraan ke arah yang lebih serius. Sebelum menekan tombol yes di jam tangan kami masing-masing, Feni menjelaskan cara kerja dari jam tangan ini karena dia lebih berpengalaman. Jam tangan yang kami gunakan ini dinamakan holowatch.

Masing-masing integrated circuit yang berbeda tertanam di dalam mesin jam tangan kami. Kemampuan dari holowatch ini adalah jika kami menekan tombol yes secara bersamaan maka akan timbul visualisasi dalam bentuk grafis di hadapan kami hanya dengan memanfaatkan ruang udara yang kosong.

“Kita coba yah!” Seru Feni kepada aku dan Rama.

Klik

Ketika tombol yes kami tekan bersama, sekonyong-konyong muncul gambar hidup di depan kami bertiga. Rasa penasaranku tak dapat aku tahan.

“Selamat malam teman-teman,” gambar tiga dimensi tersebut menyapa kami bertiga yang ternyata adalah bang Ipong.

“Saya sengaja mengumpulkan kalian malam ini karena ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada kalian,” lanjutnya.

Ipong melanjutkan pembicaraannya. Dia bercerita bahwa ada rencana-rencana jahat yang akan terjadi atas negara ini yang dilakukan oleh kelompok besar yang akan melakukan gerakan pemusnahan makhluk hidup di muka bumi.

Dan yang lebih membuatku tersentak kaget adalah salah satu kaki tangan kelompok mereka mendirikan basis di desa kami. Kelompok yang menamakan dirinya Broken Death ini memiliki senjata pemusnah massal yang berbentuk virus.

Tugas kami adalah menemukan siapa orang di balik gerakan ini. Dari Ipong aku mengetahui bahwa nama pemimpin kelompok di wilayah ini adalah Van Ben.

Surat perintah Jendral Pikolo sudah divisualisasikan kepada kami. Dan aku ditugasi untuk melaksanakan misi ini di dampingi oleh Rama dan Feni.

“Ada pertanyaan?” Ipong memberi kesempatan kepada kami untuk bertanya.

“Ger, ini akan berat bagi kamu. Saya tahu kamu sedang dekat dengan putrinya,” lanjutnya.

“…….” tak sepatah katapun mampu keluar dari lidahku yang terasa kelu.

Wajahku tertunduk lesu. Pikiranku melayang tak menentu. Di saat bunga-bunga cinta mulai bertaburan menghiasi hatiku,kini aku di hadapkan pada pilihan yang sulit.

“Sudahlah Ger, ini tugas penting dan kita harus bersikap profesional,” Rama menepuk pundakku dan mencoba bersikap tenang.

“Kamu bisa tetap dekat sama Nasya. Aku yakin kok kalian sangat cocok,” ganti Feni yang merangkulku.

Aroma tubuhnya yang semerbak harumnya membuatku lupa sejenak dengan segala permasalahanku. Payudaranya menggesek punggungku berkali-kali membuat kelaminku bergerak semakin keras.

“Thanks ya. Kalian benar-benar sahabat-sahabatku yang baik,” kali ini aku merangkul bertiga.

“Ehem, saya rasa cukup jelas. Kalau begitu saya pamit,” kata penutup dari Ipong sekaligus membuat tampilan di hadapan kami kembali hitam.

Hening sejenak, hanya suara jangkrik dan binatang malam yang terdengar. Kami kembali ke rumah masing-masing. Rasa penasaran masih berkecamuk di dalam hatiku.

“Siapa dan apa sebenarnya tujuan dari pak Bronto ini,” batinku berperang. “Apa kaitannya dengan peristiwa yang gw alami? Apa Nasya mengetahui semua ini?” Bermacam-macam pertanyaan muncul di benakku.

Saking penasarannya aku mengarahkan mobilku menuju kediaman Nasya. Dari jarak yang cukup jauh dan terlindung pohon, aku parkir mobilku lalu melangkah perlahan menuju rumahnya.

Dari kejauhan tampak terlihat ada beberapa kendaraan mewah parkir di halaman. Ada juga beberapa sepeda motor.

“Mau apa mereka di sana jam segini?” kembali muncul pertanyaan di benakku.

Dengan sangat hati-hati aku melangkahkan kakiku mendekati rumah itu sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Lampu teras tampak padam namun dari dalam rumah lampu menyala terang benderang.

Tiba-tiba dari samping rumah aku melihat sekelebat bayangan dengan sangat cepat berlari meninggalkan rumah tersebut. Seketika itu pula bayangan itu sudah berada di sampingku.

“Bang Ipong?” aku kaget bukan main melihat dia sudah berdiri di sampingku.

“Sssttt…kita dengarkan saja apa yg mereka bicarakan,” setengah berbisik dia mencoba mengingatkanku.

Konsentrasi kami fokuskan pada pembicaraan yang ada di dalam rumah. Samar-samar terdengar beberapa suara silih berganti berbicara dengan nada serius.
“Ben, tugasmu sudah dijelaskan tadi. Kamu ikuti semua apa yang diperintahkannya!” Pita suara bariton di dalam sana menekankan sesuatu.

“Baik pak, ada yang lain?” kali ini aku yakin sekali kalau ini suara dari Subronto Van Ben.

“Semua peralatan dan fasilitas akan kita siapkan, kamu rekrut orang-orang bodoh di sini sebanyak-banyaknya yah, nanti orang-orangku akan membantumu juga,” suara yang lain ikut berbicara.

“Saya rasa cukup jelas. Mengenai masalah teknis dan non teknis akan kita bicarakan selanjutnya,” si suara bariton menutup pembicaraan.

Kami berdua bergerak menjauhi tempat tersebut mencari tempat persembunyian yang aman. Dari kejauhan tampak beberapa orang keluar dari dalam rumah menuju kendaraan masing-masing.

Setelah mereka semua pergi, Subronto terlihat menyunggingkan senyum. Senyuman yang sangat licik. Aku berniat menghampirinya ketika tangan Ipong menarik bahuku.

“Jangan gegabah anak muda. Belum saatnya,” cegahnya.

“Aku akan ceritakan semuanya supaya kamu tahu pentingnya misi ini,” lanjutnya.

Ipong menceritakan tentang semua rencana-rencana mereka. Dia bercerita bahwa bahwa organisasi mereka ini adalah jaringan internasional yang bertujuan untuk menguasai dunia.

“Virusnya sudah ada disini. Persisnya dimana masih terus kita selidiki,” Ipong menjelaskan.

“Lalu kenapa harus kita yang melaksanakan misi ini bang?”

“Job desc kita adalah kejahatan-kejahatan terselubung. Mereka tetap menjalankan tugas yang tak kalah pentingnya juga dengan kita.”

“Begitu ya bang. Saya masih penasaran dengan efek yang ditimbulkan oleh virus ini.”

“Kamu pernah dengar cara kerja pukat harimau?” Aku mengangguk.

“Nah, yang satu ini lebih hebat dari itu. Bahkan seluruh populasi di dunia ini akan habis jika dia sampai menyebar.”

Separah itukah bang? Apa nama virus ini kalau boleh tahu,” aku semakin penasaran.

“Fordo BD 23. BD itu singkatan dari nama organisasi mereka.”

“Lalu cara kerjanya bagaimana?”

“Nanti akan dijelaskan oleh Prof. Wima. Sekarang sebaiknya kita pulang sambil memikirkan untuk mengatur strategi.”

“Ok bang. Aku antar pulang yuk bang.”

“Nggak perlu. Saya bawa mobil kok,” katanya sambil menekan cincin di jari manisnya.

Sekonyong-konyong muncul mobil sejenis SUV yang terparkir di sebelah mobilku. Mataku membelalak kaget.

“Kaget yah haha…” belum sempat aku bertanya dia sudah menjawab rasa penasaranku. “Profesor Wima, dia memang hebat sekali. Secara kasat mata kamu tidak akan bisa melihat keberadaan benda yang ada di hadapanmu jika menggunakan ini,” jari manisnya diangkat lalu ditunjukkan kepadaku.

“Udah ah kita pulang yuk,” ajaknya.

“Siap bang,” aku menghela nafas sambil berjalan ke arah mobilku.

Kami berpisah ketika berada di persimpangan jalan.
o o o o* 0 0 0* o o o o

“Ger, bangunnn. Kamu nggak ngampus toh nak. Ini yang mama nggak suka, mama udah larang kamu keluar tapi kamu emang susah dibilangin,” ibu mengomel tidak karuan.

“Hoaeemm… mama jangan marah-marah dong. Geger masih ngantuk nih,” jawabku setengah mengantuk.

“Ehh ini anak yah. Lain kali nggak usah keluar-keluar larut malam lagi. Nyekolahin kamu itu pake duit loh,” ocehan mama berlanjut.

Dia membuka gorden, menarik selimutku lalu mematikan ac. Pakaian kotor yang berserakan di lantai kamar dipungutinya.

“Dasar anak malas. Ayo bangun. Sudah jam 7 loh,” aku melirik jam dinding.

Hari ini adalah hari senin. Artinya aku harus menjemput Nasya di gapura jam 6. Itu selalu kami lakukan setiap habis pulang pesiar ke desa kami.

Karena sehari-harinya aku, Rama dan Nasya harus nge-kost di sekitar kampus supaya tidak terlalu lelah kalau pulang pergi dari Barbar.

Aku bergegas menuju kamar mandi. Selesai mandi aku mencicipi sarapan ala ibuku sambil bergegas meninggalkan rumah.

“Geeerr…” teriak ibuku.

Aku berbalik ke ruang tamu lalu mencium tangan dan pipinya.

“Mmuuaahhh…Geger pamit ma. Oh iya papa mana?” Tanyaku.

“Papamu sudah di balai dari habis subuh. Mama salut liat papamu. Banyak yang sudah dia usahakan untuk Barbar, mudah-mudahan desa kita semakin maju ya nak.”

“Amin. Kalau gitu Geger berangkat dulu ya ma. Telat nih.”

“Hati-hati di jalan nak. Jangan kebut-kebutan ya!”

“Siap mamaku yang cantik. Assalamualaikum,” pamitku.
o o o o* 0 0 0* o o o o

Berkali-kali aku hubungi hp-nya Nasya tetapi tetap tidak ada jawaban. Dia benar-benar marah kali ini. Aku mencoba menyusuri jalanan dan mengemudikan mobilku dengan sangat pelan siapa tahu dia mampir di warung-warung, hasilnya masih tetap nihil.

“Sya, loe dimana sih?” Perasaanku semakin tak menentu.

Mataku menengok kiri kanan jalan. Akhirnya pandangan mataku berhenti pada sebuah pohon mahoni di sebelah kiri jalan. Seorang gadis berambut panjang duduk di atas sebuah batu besar. Kedua tangannya memeluk kakinya yang ditekuk dan wajahnya bersembunyi di antara kedua tangannya.

Aku keluar dari mobil lalu menghampiri gadis itu kemudian duduk di sebelahnya.

“S..sya,” tanganku mencoba menepuk bahunya. Tapi dia menepis tanganku dengan mengangkat bahunya.

“Maafin gw yah,” lagi-lagi dia diam.

Hanya isak tangis yang terdengar dari mulutnya. Kali ini aku bingung dan tak tahu apa yang harus aku perbuat. Aku benar-benar menyesal telah lupa waktu.

“Loe punya perasaan nggak sih. Satu jam lebih gw nungguin loe di gapura hiksss..” dia tengadahkan wajahnya untuk memandangku. “Loe jahat Ger, loe jahaatt,” tangisnya pecah. Tangannya memukul lenganku berkali-kali.

Tanganku meraih bahunya, wajahnya ku sandarkan di dadaku. Dengan lembut aku mengelus rambutnya.

“Gw janji nggak akan nge-biarin loe sendirian lagi. Maafin gw yah,” kataku mencoba meyakinkannya.

“Jan ji yahh,” dia memandangku sambil terisak.

Aku mengecup keningnya sebagai jawaban dari ucapanku tadi. Dia menggandeng tanganku turun dari atas batu lalu berjalan menuju mobil sambil sesekali tubuhnya menggelayut manja di sampingku.

“Silakan tuan putri,” aku membuka pintu mobil lalu bak seorang pelayan yang sedang mempersilakan tamunya untuk masuk.

“Maacih,” senyumnya yang menawan membuat wajahnya kembali terlihat cerah tanpa berawan.

“Kemana kita sekarang?” Tanyaku pura-pura bingung.

“Ya kemana ajah yang penting loe temenin gw. Kalau ke kampus kan udah nggak mungkin.”

Mobil yang aku kendarai meluncur perlahan. Belum tahu arah mana yang kami tuju. Tiba-tiba tangan Nasya mampir dan mengelus perutku. Perlahan turun dan berhenti di kancing celana jeans yang kupakai.

Dengan senyum genit dia mulai membuka kancing celanaku lalu menurunkan resletingnya perlahan. Nafasku mulai terasa sesak. Wajahnya merona merah sementara dia menggigit bibir bawahnya dengan deretan gigi-giginya yang putih bersih. Membuat jantungku berdebar semakin tak karuan.

“Eh…Sya, ma..mau apa loe? G gw la lagi nyetir loh,” kataku gugup.

“Loe yang nyetir, gw yang mainin persneling loe yah,” pupus sudah harapanku untuk mempertahankan gengsiku di hadapannya.

Perlahan tangannya turun menyelusup ke celana dalamku. Jari-jarinya mencari-cari sesuatu di dalam sana sampai akhirnya dia menemukannya. Dalam kondisi on fire dia menarik penisku keluar dari sarangnya.

“Wah, dede nakal yah. Kok udah bangun aja nih,” katanya sambil menggoda kemaluanku.

“Sya, mau diapain itu.”

“Udah loe nyetir aja sambil nikmati yah,” perlahan dia mulai mengelusnya.

Lalu dia mulai mengocoknya perlahan. Hampir saja aku kehilangan konsentrasi saat menyetir. Untung situasi jalanan sepi dan hanya sesekali kendaraan yang melintas.

Semakin lama rangsangan ini semakin tak dapat kutahan. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti supaya aku bisa berkonsentrasi. Kocokannya semakin lama semakin cepat. Tanganku mencoba meraih buah dadanya tapi dia menepisnya.

Hanya desahan demi desahan yang keluar dari mulutku sampai spermaku muncrat membasahi tangannya dan celanaku.

“Hahhh legaaa,” kataku tersenyum puas.

“Ihh dassarrr,” ejeknya dengan senyuman menggoda.

Pagi itu kami melanjutkan perjalanan menuju ke dokter gigi. Nasya ingin mempercantik giginya dengan memakai behel. Katanya sih demi aku. Tapi masa bodohlah karena dia tetap cantik dan indah bagiku.

Misteri hidupnya masih menjadi pertanyaan yang belum dapat kutemukan jawaban hingga hari ini. Mungkin suatu saat nanti aku akan mendapatkan jawaban itu. Who knows…..

## Bersambung

Author: 

Related Posts