Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 3

Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 3by adminon.Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 3Dark Secret II : Revenge – Part 3 Chap 1 Somewhere I Belong Part 2 Ting Pintu lift terbuka dan Cantal melangkah menuju ke kamar 303. Lorong hotel terlihat sepi walaupun belum terlalu malam. Didepan pintu kamar no 303 Cantal berhenti dan menarik nafas panjang sebelum dia mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian pintu terbuka […]

tumblr_ns93svAszI1u41n8xo5_1280 tumblr_ns93svAszI1u41n8xo6_1280 tumblr_ns93svAszI1u41n8xo7_1280Dark Secret II : Revenge – Part 3

Chap 1
Somewhere I Belong
Part 2
Ting

Pintu lift terbuka dan Cantal melangkah menuju ke kamar 303. Lorong hotel terlihat sepi walaupun belum terlalu malam. Didepan pintu kamar no 303 Cantal berhenti dan menarik nafas panjang sebelum dia mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian pintu terbuka dan seorang lelaki kelihatan dari celah pintu yang terbuka.

“KAU!”

“Iya, ini aku Cantal, kau terkejut?” kata seorang lelaki setengah baya dengan kumis tipis. Senyumnya sungguh membuat Cantal muak.

“Sesuai pesanan, akhirnya aku bisa menikmatimu juga, hahaha…” kata lelaki setengah baya itu sambil menarik tubuh Cantal dalam pelukannya.

“Lepas!” kata Cantal sambil melepaskan dirinya dari pelukan lelaki setengah baya yang merupakan direktur ditempatnya bekerja. Dengan pandangan marah Cantal melangkah ke pojok kamar, mencoba melindungi dadanya dengan tangan.

“Apa kau mau menolakku lagi? Apa kau tidak takut dengan akibatnya?” tanya si lelaki dengan nada sinis.

Cantal hanya bisa menahan kemarahannya didalam dada. Bukan lelaki itu yang ditakutinya, tapi orang-orang yang ada dibelakang semua ini. Orang-orang yang menganggap nyawa dan harga diri sebagai suatu hal yang bisa dibayar.

“Apa kau ingin aku menghubungi mereka dan mengatakan kau tidak mau melayaniku? Jawab manis!” kata lelaki itu dengan nada mengancam. Cantal hanya bisa terdiam ditempatnya, terlalu bingung untuk mengambil keputusan. Matanya terarah kepada tangan silelaki yang mengambil handphone dari atas meja dan hendak menekan tombol…

“Tunggu! Aku…aku…aku akan melayanimu,” kata Cantal lemah sambil meletakkan tas yang dibawanya di lantai..

“Hahaha…, begitu baru benar, kesini manis, ” kata lelaki itu sambil duduk diranjang. Matanya memandang tubuh sintal Cantal yang dia tahu saat ini tidak mengenakan pakaian dalam lagi sesuai permintaannya.

Dengan langkah pelan menahan segenap perasaan yang ada didalam hatinya, Cantal melangkah menghampiri lelaki yang dihindarinya selama karirnya. Lelaki yang menawarkan jabatan yang lebih tinggi kepadanya asalkan mau tidur bersama. Pak Edha, direktur yang sudah terkenal kemesumannya di tempat Cantal bekerja. Entah sudah berapa calon news anchor dan reporter yang berhasil ditiduri olehnya.

Dengan tampang licik dan dihiasi kumis tipis dan jarang di wajahnya, wajah Edha tentu tidak begitu menarik bagi kaum wanita, namun kedudukannyalah yang membuat dia seperti mejadi raja kecil di stasiun televisi yang sahamnya mayoritas menjadi miliknya. Wajah itu, yang sekarang terlihat begitu menikmati wajah tak berdaya Cantal!

“Sini manis, ” kata Pak Edha sambil menarik tangan Cantal hingga terduduk dan mengarahkan muka Cantal kearah penisnya yang sudah keluar dari sarangnya dan terlihat keras. Sejenak Cantal hanya terpaku melihat ukuran penis dari sang direktur, pendek, mungkin hanya 10 atau 12 cm dengan diameter yang juga kecil. Sekuat tenaga Cantal berusaha menahan tawa melihatnya.

“Jangan bengong saja manis!” kata Pak Edha sambil tangannya menekan kepala Cantal ke penisnya. Tercium aroma yang kurang sedap dari sana dan dengan menahan mual Cantal mulai mencium penis terkecil yang pernah ditemuinya. Berbagai perasaan berkecamuk dihatinya ketika akhirnya penis itu masuk kedalam mulutnya yang basah. Dengan ahli Cantal mengulum penis itu hingga yang punya mendesah keenakan.

“Aahhhh…,dasar pelacur! Tadi ogah, sekarang pinter banget ngulumnya! Munafik!” ceracau Pak Edha sambil tangannya menekan kepala Cantal kearah penisnya sehingga Cantal sulit bernafas.

“Ugghhh..ughhh..uhhhh….,” suara Cantal yang kesulitan bernafas yang malah membuat nafsu Pak Edha semakin melambung.

“Ugghhhh…hah…hah…hah…,” sambil terengah-engah Cantal melepaskan penis itu dari kulumannya. Dengan ludah yang membasahi bibirnya dia memandang dengan marah kearah Pak Edha.

“Manis, kau terlihat semakin cantik ketika marah begitu,” kata Pak Edha sambil bangkit dan menarik tangan Cantal hingga berdiri. “Sekarang berbalik, aku ingin merasakan kehangatan dari lubang mu yang dibawah, apakah masih legit ataukah sudah longgar!” perintahnya sambil mendorong tubuh Cantal kesisi ranjang. Dengan mengertakan gigi Cantal menuruti permintaannya. Pantatnya yang besar sekarang terlihat menungging didepan mata Pak Edha.

Dengan pelan Pak Edha menaikkan rok pendek hitam Cantal sampai ke pinggulnya sehingga terlihat pantat putihnya yang selama ini hanya bisa dihayalkannya.

“Wow…, putih dan mulus, dirawat dengan baik rupanya…,” katanya sambil tangannya membelai bulatan kembar itu.

Plaakkkkkk….!

“Aduh!” jerit Cantal refleks ketika dengan keras Pak Edha menampar pantatnya. Air mata perlahan menggenang di pelupuk mata Cantal ketika jari kurus lelaki yang dibencinya mempermainkan permukaan vaginanya yang sudah sedikit lembab.

Dengan mata terpejam Cantal merasakan jari itu memasuki belahan vaginanya dan mengais-ngais didalam sana. Cantal hanya bisa manahan nafas ketika dua satu jari lagi memasuki vaginanya dan bergerak maju mundur dengan cepat.

“Aaagghhhhh…,” lenguh Cantal pelan ketika jari dengan nakalnya mengeruk dinding vaginanya sbelum dutarik keluar.

“Wow…,” kata Pak Edha sambil memperhatikan jarinya yang terlihat berisi cairan kental berwarna bening dan lengket. Cairan kesuburan Cantal!

“Ada yang sedang subur rupanya,” kata Pak Edha sambil memasang kondom dan memposisikan penisnya di depan pintu vagina Cantal yang belum begitu basah.

“Aaarrrrggghhhhhhh!” teriak Cantal ketika batang kurus dari lelaki dibelangkangnya menembus lubang kenikmatannya yang masih kering dalam sekali hentakan yang kuat. Dengan menggigit bibir dia mencoba menahan rasa panas dan nyeri dari batang kurus yang sekarang sedang menghentak dengan cepat di vaginanya!.

“Ahhhhh.. pak…sakit…,” kata Cantal ketika rambutnya ditarik dengan keras kearah belakang oleh Pak Edha. Namun bukannya berhenti, malah tangan itu semakin tinggi menarik kepala Cantal hingga mendongak keatas.

Perlahan rasa sakit dan panas akibat dari gesekan kondom dan kulit vaginya itu berubah menjadi nikmat. Dengan malu Cantal berusaha mati-matian untuk tidak mengerang menahan rasa geli yang mulai terasa di vaginanya yang bagaimanapun juga sekarang sedang dalam masa-masa yang siap untuk dibuahi.

Plaakkkkkk….!Plaakkkkkk….!Plaakkkkkk….!

Tamparan demi tamparan mendera kulit pantatnya yang mulus hingga sekarang perlahan berubah menjadi merah. Namun bukannya berhenti, Pak Edha semakin kesetanan menghentakan penisnya ke vagina Cantal yang berwarna merah karena terangasang.

“Ahhhh.. dikit lagi,…” ceracaunya ketika sperma yang mengendap itu hendak merangsek keluar. Dengan beringas dia menarik rambut Cantal hingga terduduk didepannya. Dengan gerakan cepat kondom itu terlepas dan…

“Aahhhhh…,” raung Pak Edha ketika penis kurusnya menembakkan sperma berkali-kali ke muka Cantal yang merona merah menahan birahi. Beberapa semprotan kuat mengenai mata bahkan telinga Cantal.

Dengan menahan amarah, malu dan juga birahi, Cantal membuka blouse dan roknya lalu dengan langkah smepoyongan menuju kamar mandi. Air shower dihidupkannya dengan keras untuk menutupi isak tangisnya yang mulai keluar.

Beberapa menit kemudian Cantal keluar dengan wajah yang sedikit lebih segar. Bekas sperma dan persetubuhan yang tadi sudah sedikit menghilang.

Tanpa bicara Cantal mengenakan pakaiannya, tak sadar kalau beberapa kali tubuhnya diabadikan dari belakang oleh bandot tua dengan kamera smartphonenya.

Tanpa bicara Cantal melangkah keluar dari pintu dan bergegas menuju ke lobi lewat lift. Tidak dipedulikannya tatapan heran dan mesum dari beberapa orang yang ada disana. Dengan menebalkan muka dia keluar dari lift dan menuju jalan. Dengan tersenyum dia melihat taksi yang tadi masih ada disana.

“Wah, thanks ya mas, ke Jalan Sunda Kelapa ya mas,” kata Cantal ketika sudah masuk kedalam taksi. Wajah merah si sopir taksi yang melihat Cantal masuk dari pintu membuatnya tersenyum.

Ting…

Dengan tangan kanannya Cantal melihat hanphone dan mengumpat didalam hati.

From : Director
Hmmm…, CD yang basah dan bra ini membuatku teringat terus akan dirimu manis…

Dengan marah Cantal meletakkan handphonenya di dalam tas dan baru menyadari kalau pakaian dalamnya tidak ada didalam tas! Dan itu rupanya yang membuat si sopir taksi tadi wajahnya merah.

Apakah dia melihat..? Pikir Cantal dengan malu…

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~”Aaarrrrggghhhhhhh!”

“Ahhhhh.. pak…sakit…,”

Plaakkkkkk….!Plaakkkkkk….!Plaakkkkkk….!

“Ahhhh.. dikit lagi,…”

“Aahhhhh…,”

Klik.

Suara tombol yang ditekan mengakhiri rekaman itu, rekaman persetubuhan yang rasanya berlangsung dengan cukup panas. Lelaki itu menarik nafas panjang ketika rekaman itu berakhir.

Ditangannya sekarang terlihat sebuah foto gadis yang terlihat matang di usianya yang mungkin baru 25an. Dibelakang foto itu terlihat sebuah tulisan dengan menggunakan pulpen.

Putri-TOPTV

Dengan senyum dibibirnya lelaki itu menginjak pedal gas mobilnya dan menuju alamat stasiun televisi yang menjadi tempat kerja gadis di foto itu.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~

Author: 

Related Posts