Cerita porno paling hot saat servis mobil

Cerita porno paling hot saat servis mobilby adminon.Cerita porno paling hot saat servis mobilCerita porno paling hot saat servis mobil – Pagi itu Rosi dengan malas dan setengah mengantuk terpaksa berangkat mengantarkan sang istri ke kampusnya sehubungan kegiatan KKN. Rosi malas malasan dikarenakan setelah mengantarkan sang istri mau tak mau harus sekalian ke Auto 2000, pekerjaan yg amat di bencinya. Mobil mereka yg baru menempuh sekitar 1000 km an […]

Cerita porno paling hot saat servis mobil – Pagi itu Rosi dengan malas dan setengah mengantuk terpaksa berangkat mengantarkan sang istri ke kampusnya sehubungan kegiatan KKN. Rosi malas malasan dikarenakan setelah mengantarkan sang istri mau tak mau harus sekalian ke Auto 2000, pekerjaan yg amat di bencinya. Mobil mereka yg baru menempuh sekitar 1000 km an harus menjalani pemerikasaan rutin sesuai garansi yg di dapatkan dari dealer.

Setelah menurunkan sang istri di kampusnya mobil Avanza berwarna hitam tersebut meluncur menembus kemacetan menuju bengkel Auto 2000 di jalan Asia Afrika Bandung. Masuk setelah melalui pos satpam yg menanyakan keperluannya dan memarkir mobilnya di belakang deretan beberapa mobil yg telah terlebih dahulu datang. Melangkah masuk dalam kantor bagian service setelah mendapatkan nomor urut 11. Menunggu dengan kesal panggilan untuk pendaftaran pelayanan service.

paha mulus seksi

paha mulus seksi

Satu persatu nomor urutan di panggil untuk mendapatkan pendaftaran pelayanan sekaligus mencatat keluhan yg dirasakan oleh masing masing pemilik mobil tersebut. Bapak Iwan dan bapak Teguh bagian service Advisor menghadapi dengan ramah setiap pelanggan mereka dan mencatat setiap keluhan untuk menjadi input bagi mekanik mereka.

Saat nomor urut 8 di panggil, mata Rosi terpaku pada langkah seorang wanita. Melangkah dengan ringan menuju meja pendaftaran. Seorang ibu muda paling tdk berumur tdk lebih dari 30 tahunan. Mengenakan rok panjang berlipit dengan bahan yg ringan, dipadu dengan T shirt berlapis jaket denim. Di punggungnya tersampir tas ransel berbahan kulit dengan warna yg cerah. Dengan gerak gerik yg lincah sang ibu muda tersebut cepat sekali menarik perhatian Rosi. Mata Rosi tak lepas dari gerak gerik wanita itu hingga wanita itu menghilang ke ruang tunggu di lantai atas yg menghadap langsung ke ruang kerja bengkel tersebut.

Satu demi satu nomor urut di panggil tak terkecuali Rosi. Dan setelah mengutarakan semua keluhannya yg segera di catat oleh bapak Teguh, Rosi pun kembali duduk di rung tunggu. Pak Iwan menganjurkan Rosi untuk menunggu di ruang tunggu di lantai atas, akan tetapi Rosi dengan sopan menolaknya dengan alasan ingin merokok.

’Uh.., membosankan menunggu seperti ini’ batin Rosi.

Entah sudah beberapa batang rokok di habiskannya. Saat kebosanannya meningkat itulah di lihatnya wanita yg tadi mencuri perhatiannya turun dari ruang tunggu melangkah dengan ringan. Sekejab mata mereka saling beradu, dan saling lempar senyum. Langkah wanita itu menghilang keluar dari bangunan bagian service tersebut.

Untuk menghilangkan kejenuhannya Rosi berjalan jalan menuju ruang pamer dari kantor tersebut. Menghampiri mobil yg tengah di pajang disana. Tak banyak mobil yg dipajang saat itu. Sebuah Kijang Innova, Yaris, dan Avanza terparkir dengan manis di ruang pamer tersebut. Sales yg berada di ruangan tersebut yg semuanya wanita tersebut tersenyum. Rosi tak tertarik. Mungkin di karenakan mereka sudah tak muda lagi dan tak menarik secara visual meskipun setelan mereka cukup mini.

Setelah berkeliling Rosi kembali duduk di ruang tunggu tersebut pada kursi paling ujung sehingga ia dapat memandang keseluruhan ruangan, baik kegiatan ruang pamer ataupun siapa saja yg tengah lalu lalang pada ruang service. Tak lama berselang wanita muda yg tadi sempat menarik perhatiannya kembali memasuki ruangan service dengan beberapa lembar kertas di tangannya. Memandang berkeliling menacri tempat yg nyaman menurutnya, melangkah ke arah Rosi dan duduk di kursi di samping Rosi yg hanya terpisah sebuah meja kecil. Meletakkan lembaram kertas di tangannya yg ternyata adalah brosur mobil. Mengeluarkan handphonenya dan memijit mijit keypadnya.

Rosi memperhatikan wajahnya cukup manis dengan rambut sebahu. Penampilannya cukup modis. Wanita tersebut menoleh tersenyum.

”Lama sekali ya bu….”sapa Rosi ramah mencoba membuka percakapan.
”Iya nih, saya dari pagi tadi karena ’ga booking service terpaksa menunggu lama” sahutnya renyah.
”Betul, pekerjaannya sih sebentar tetapi karena antri menunggu gilirannya yg lama” kembali Rosi berkata mengiyakan.
”Mobilnya kenapa bu…..?” tanya Rosi kembali.
”Tadinya sih hanya tune up rutin, tetapi kata pak Iwan akan di periksa secara detil karena setelah saya katakan keluhannya, sepertinya agak berat nih..”ujarnya sambil menghela napas.
”Mobil bapak kenapa…?”tanyanya balik.
”Hanya service garansi 1000 km….”jawab Rosi.
”Baru ya…?” tanyanya kembali.
”Sekitar sebulanlah…”jawab Rosi kembali.

Pembicaraan mereka mengalir dengan lancar. Entah kenapa Rosi merasakan bahwa wanita muda itu sangat enak berkomunikasi. Tawanya renyah. Akan tetapi kedua mata wanita muda itulah yg mendapat perhatian khusus Rosi. Matanya bulat dan indah, apabila mengerling, …alamak sangat menggiurkan sekali pandangan matanya tersebut. Berkali kali Rosi merasakan pandangan mata indah tersebut mencerabut gairah kelelakiannya.

”Avanza saya juga berwarna hitam, tahun 2005…”terangnya kembali.
”Saya pengin ganti, karena rasanya kurang cocok dengan keinginan saya..”ujarnya menerangkan.
”Rush bagus bu…” ujar Rosi.
”Iya saya kan tadinya mau lihat lihat Rush tetapi ga ada di showroom ini, makanya tadi saya ke showroom sebelah melihat lihat Terios..”ujarnya menyodorkan brosur Terios kepada Rosi.

”Mau yg hitam lagi ya bu….?” tanya Rosi.
”Benar, tapi katanya harus indent sampai Maret 2008, kelamaan..”sahutnya.
”Sudah coba ke Tunas bu, saya dengar mereka bisa mengusahakannya tentunya dengan harga diatas standar…”terang Rosi.
”Betul.., tetapi kalau ambil di Tunas ga dapat Astraworld…”ujarnya kembali.
”Kalau Grand Livina gimana, ga tertarik..? Katanya mobil itu adalah mobil teririt saat ini…”tanya Rosi.

”Berapa sih….?tanyanya seraya mengerling.
”Sepengetahuan saya berkisar di angka 160 jutaan….”sahut Rosi. ”Hmm……..”gumammnya perlahan.
”Kalau saya , lebih memilih mobil yg berukuran besar. Saya merasa sumpek kalau berada dalam mobil sedan…”lanjut Rosi.
”Sama, saya juga begitu ga merasa nyaman kalau berada dalam mobil sedan, Kalau bisa sih pakainya mobil kelas jeep, kesannya tuh gagah banget deh..”terangnya tersenyum.

Selang kemudian nama wanita wanita muda itu di panggil oleh bapak Iwan, yg langsung dihampirinya dengan langkah ringan. terlihat mereka bercakap cakap serius. Beberapa kali wanita yanng ternyata bernama Cintia tersebut menganggukkan kepalanya menyimak serius. Lalu kembali ia melangkah ke tempat duduknya semula.

”Selalu di sini bu kalau service…? tanya Rosi.
”Biasanya di auto 2000 pasteur atau di Cibiru…. disana ga antri karena stall mekaniknya cukup banyak..”sahutnya.
”Kenapa ga bapak bu yg service…”tanya Rosi kembali.
”Bapaknya kan kerja…, ini juga karena kebetulan ada keperluan ke alun alun, makanya service di sini…”ujarnya kembali.
”Oh ya bu, saya Rosi.., nama ibu Cintia kan….?”ujar Rosi mengenalkan dirinya.
”Ko..tau…..”tanyanya heran.
”Tadi kan nama ibu dipanggil pak Iwan….”terang Rosi.
”Oh iya……..”sahutnya tersenyum.

Tak lama kemudian pak Iwan kembali menghampiri bu Cintia, menerangkan bahwa mobilnya harus di tinggal untuk dapat dikerjakan dengan cepat. Terlihat raut muka bu Cintia yg muram mendengar penjelasannya. Dan setelah menanyakan biayanya , ia melangkah ke bagian kasir dan membayar senilai tagihan perbaikan mobilnya dengan kartu kreditnya. Setelah duduk di kursi semula bu Cintia merogoh tas ranselnya yg dipangkunya, mengeluarkan handphonenya mencoba memijit mijit dan menempelkannya di telinganya. Terlihat ia kesal karena hubungan yg di ingininya tak terlaksana.

”Ada apa bu…..”tanya Rosi ramah.
”Ini, mobil saya harus menginap disini, saya udah coba telepon bapak tapi handphonenya dimatikan…”sahutnya.
”Ibu tinggal di mana…?” tanya Rosi.

Wanita muda itu memalingkan wajahnya memandang tajam kearah Rosi. Mungkin mencari cari pandangan nakal yg tersirat di wajah Rosi. Rosi memandang dengan pandangan biasa tak bermaksud apa apa.

’Laki laki ini menarik dan sikapnya ga nakal…’ batin Cintia
”Di Cijambe mas…..”ujarnya perlahan.

Terkejut hati Rosi atas perubahan panggilan yg dilakukan oleh wanita muda itu.

”Kalau Mba’ Cintia tak keberatan.

Saya kan tinggal di timur di Sukarno Hatta, setelah mobil saya selesai saya antarkan mba’ kerumah…” pinta Rosi harap harap cemas.

”Jangan deh.., merepotkan mas segala…”ujarnya berbasa basi.
”Ga ko, saya habis ini juga ga ada keperluan kemana mana…”!kata Rosi cepat.
”Beneran nih….?” tanya Cintia kembali.
”Saya ga berbasa basi ko……”ujar Rosi.
”Oke deh…., ga lama lagi kan….?” ucapnya tersenyum renyah.
”Sebentar lagi paling…..”sahut Rosi.

Kembali mereka terlibat dalam obrolan ringan dan bersahaja. Sesekali Rosi melontarkan joke joke ringan mencoba untuk lebih mengakrabkan suasana. Berkali kali Cintia tertawa terpingkal pingkal sambil menutupi bibirnya dengan tangannya. Tak kuat menahan geli akibat joke joke Rosi. Terkadang tangannya tak sadar memukul halus tangan Rosi yg tengah memperagakan humornya. Tak lama berselang pak Iwan sang service advisor memanggil nama Rosi.

“Ini pak Rosi, keluhan atas mobil bapak sudah kami atasi, silakan bapak coba….”ucapnya ramah.
”Ga usah saya coba sekarang pak, toh nanti kalau ada keluhan saya telfon bapak..”ujar Rosi.
”Baiklah kalau begitu…, ini surat yg harus ditandatangani bapak, dan lembar yg satu ini nanti diserahkan kepada security di depan. Mobil bapak sekarang ada di parkiran depan. Sudah bersih setelah kami cuci dulu, silakan…” ujarnya menyerahkan kunci mobil ke tangan Rosi.
”Terimakasih pak Iwan…”sahut Rosi ”Kembali pak..” sahut pak Iwan.

Sesaat sebelum melangkah Rosi memandang ke arah Cintia yg tengah duduk memperhatikan Rosi dan pak Iwan berbicara. Rosi menganggukkan kepalanya mengisyaratkan ajakan. Cintia tanggap dan bangkit. Setelah mengucapkan salam kepada pak Iwan iapun menyusul berlari lari kecil di belakang Rosi.

Setelah mereka berdua berada di dalam mobil. Dan Rosi mencoba bagian mobil yg di keluhkannya ke auto 2000, ternyata berjalan normal. Rosi lega. Dan setelah kondisi ruangan mobilnya mulai terasa dingin oleh AC, Rosi bergerak perlahan. Mengarahkan mobilnya ke jalan raya, setelah memberikan lembaran kontrol untuk security. Mobil pun meluncur di jalan raya dengan perlahan.

”Malu aku tau ga’…”ucap Cintia memecahkan kebisuan diantara mereka.
”Kenapa harus malu..? Toh mereka juga mengerti dengan keadaan ibu…”ujar Rosi.
”Jangan panggil ibu..deh, panggil nama saja, kita kan sebaya…”pintanya renyah.
”Terus mau kemana ini…, pulang…?” tanya Rosi.
”Ke situ dulu…..”ujarnya seraya menyebutkan nama sebuah toko bakery.
”Ga pa pa kan..?” tanyanya.
”No problem……..”sahut Rosi. Mobilpun meluncur ke tujuan yg di maksud, berjalan dengan perlahan membelah kemacetan kota Bandung.

15 menit kemudian mereka telah berada di pakiran toko tersebut. Rosi mendampingi Cintia yg terlihat meminta ini itu kepada pelayannya. Kemudian ia menghampiri Rosi.

”Ga pa pa menunggu sebentar….?”tanyanya dengan wajah berharap.
”Aku santai ko……”sahut Rosi memandang berkeliling.
”Pesananku masih belum mateng….., kita tunggu di sana yuk….”ajaknya menarik tangan Rosi. Bersisian mereka mereka menuju bangku yg disediakan bagi konsumen yg makan di tempat.

Sambil memesan secangkir kopi mereka duduk berhadapan. Bercakap cakap dengan akrab seolah olah telah berteman lama.

Sambil menyeruput kopinya Rosi memandang wajah di depannya. Wajahnya manis dengan bibir kecil yg selalu berkicau ramai. Kembali menatap matanya Cintia yg bulat yg diakui Rosi sangatlah indah dan kerlingannya itu yg membuat jantungnya berdebar debar.

’Hmm…kerlingan matanya sangat sangat menarik…’ batin Rosi.

Tak lama kemudian pesanan Cintia datang, beberapa bungkusan plastik diantarkan pelayan mengekori langkah Rosi dan Cintia menuju parkiran. Dan setelah memberi tips seadanya mobil yg mereka tumpangi meluncur kembali di jalan raya. Saat itu sekitar jam 11 an menurut jam di dashboard mobil. Rosi mengarahkan mobilnya kearah rumah Cintia di Cijambe di wilayah Bandung Timur. Melewati sambil merayap perlahan terminal Cicaheum yg padat itu. Terus berjalan. Untunglah AC mobil Avanza itu cukup dingin sehingga mereka cukup nyaman meskipun dalam kemacetan. Tak terasa kini mereka telah memasuki komplek perumahan dimana Cintia tinggal.

”Pada kemana si kecil…? tanya Rosi sambil memandang berkeliling di ruang tamu yg asri itu setelah mereka berada di dalam rumahnya Cintia.
”Biasalah,..anak anak kan sekolah, terus les. Si bibik kan pulang pergi tiap hari, karena dia orang dekat sini ko…”teriak Cintia dari belakang.
”Yah beginilah klo sudah siang…, sepi…”tambahnya seraya menjinjing dua gelas syrup ditangannya.

Melangkah dari dapur. Rosi tercekat, melihat penampilan wanita muda itu. Kini jaket jeansnya tak ada lagi. T shirt ketat yg menampangkan lekuk tubuhnya kini melekat pada tubuhnya sintalnya. Masih dengan rok panjang yg dikenakannya seperti sebelumnya. Betul betul serasi dan seksi sekali.

”Ayo mas Rosi diminum syrupnya, kasihan cape pastinya setelah aku repotkan kesana kemari..”ujarnya menyodorkan gelas yg berada di tangan kanannya.

Dan ia duduk pada ujung sofa yg juga diduduki oleh Rosi.

”Biasa saja, namanya juga membantu….”ujar Rosi berbasa basi sedikit.

Menerima gelas yg disodorkan Cintia. Menariknya ke wajahnya. Di teguknya minuman itu dalam tatapan yg mereka yg terpaut.

’Uh.., matanya…’detak hati Rosi.

Rosi merasakan Cintia tengah melemparkan sinyal sinyal gairahnya terhadap dirinya , tetapi Rosi tak mau gegabah yg dapat berakibatkan suasana yg telah terbangun menjadi rusak dan buyar.

Dan kembali mereka larut dalam pembicaraan mengenai mobil yg brosurnya tadi telah di bawa Cintia. Rosi coba menjelaskan sebisanya fitur fitur dan keistimewaan yg ia mengerti. Diselingi joke joke ringan menetralkan suasana. Hingga…..

Tangan Rosi saking asyiknya bergerak memberi tekanan pada setiap jokenya tak sengaja menyenggol kertas brosur yg menyebabkan gelas minumnya terguling tumpah… Dengan cepat Rosi menyambar brosur yg mulai basah tersebut. Begitu juga Cintia bergerak maju menjangkau ke depan.

Tak diduga sebelumnya tangan mereka bertemu, jemari Rosi menumpu di atas punggung tangan Cintia. Waktu serasa berhenti bagi mereka berdua. Rosi naluriah membelai tangan halus tersebut, menatap pada mata indah yg juga tengah menatapnya. Mata mereka bertautan. Dan seperti telah sepakat kedua tubuh mereka mendekat hingga wajah mereka hampir bersentuhan.

Cintia dapat merasakan nafas hangat Rosi berhembus pada permukaan kulit wajahnya. Hangat… Cintia menundukkan wajahnya mencoba menetralkan debur jantungnya yg bergemuruh di landa gairah yg sangat di kenalinya. Dadanya turun naik setiap tarikan nafasnya. Rosi mendekat…

Di jatuhkannya kecupan ringan pada sudut bibir merah merona tersebut. Dapat ia rasakan tubuh Cintia sedikit tersentak terkejut oleh aksi Rosi. Tapi ia tak bergerak menjauh. Bahunya masih turun naik. Perlahan wajahnya menaik. Matanya mulai menatap Rosi dengan pandangan yg memercikkan kehendak dasarnya yg terpicu.

Dengan cepat tiba tiba bibir Cintia menerkam bibir Rosi, melumatnya dengan ganas..! Sejenak Rosi kaget akan tindakan wanita di depannya. Tapi segera bertindak menyambut dengan tak kalah panasnya. Kedua tangan Cintia merangkul ketat leher lelaki yg baru dikenalnya itu. Lidah mereka berpalun palun, saling belit dan saling menghisap tak henti hentinya. Telapak tangan Rosi yg terlatih segera melakukan tugasnya. Dengan tangan kiri di tariknya pinggang wanita muda itu untuk duduk di pangkuannya.

Semuanya serba terburu buru dan sangat tergesa gesa. Sementara Cintia asyik dengan bibirnya pada wajah Rosi, mengecup, menjilat setiap permukaan wajah itu, tangan Rosi telah berada pada dada wanita manis itu meremas dan membelai bulatan membusung di atas pemukaan kaosnya. Dengan cepat Cintia bergerak, menarik kaos ketatnya keatas dan meloloskannya melalui kepalanya. Begitu juga dengan Bh krem yg melekat menutupi dadanya menyusul lepas sehingga tubuh mulus wanita muda itu praktis telanjang dari pinggang ke atas. Segera wanita muda itu menyodorkan busungan dadanya ke wajah Rosi. Dengan cepat pula bibir Rosi mencucupi putingnya yg merah kecoklatan.

”…Ahhh…!” erang Cintia seraya melentingkan tubuhnya ke belakang. Lidah kasar Rosi bergerak membelai dan menghisap dengan rakus. Berpindah pindah kekiri dan kekanan, tak melewatkan semilipun. Kepala wanita sintal itu berpaling kekiri dan kekanan menerima tekanan dan sentuhan lidah dan mulut Rosi yg ahli.

Tak sabar, wanita muda itu berdiri dan menarik kaos yg dikenakan Rosi dengan terburu buru melewati kepalanya. Lalu dengan cepat kedua tangan mungil itu menyelusup ke balik roknya, dan bergerak turun melakukan sesuatu. Tau tau CD yg berwarna krem itu telah berada dalam genggaman jarinya. Rosi tanggap dan bergerak, meloloskan celana miliknya sehingga ia pun telanjang bulat.

Segera Cintia kembali menduduki pangkuan Rosi, menempelkan milik paling pribadinya pada batang kekar lelaki di bawahnya, menggerakkan pinggulnya mengurut batang tersebut dengan perlahan. Rosi segera menyambar puting dada yg meruncing pada ujungnya dengan lidahnya. Menghisap, menyedot dan mengulum seolah olah memeras isinya. Kepala Cintia kembali tersentak ke belakang.

”…Ohhh…!”serunya pendek.

Pinggulnya terus bergerak ritmis menggali setiap sumbu kenikmatan yg makin membara. Mengurut dari bawah dan keatas hingga bonggol batang kejantanan lelaki di bawahnya. Bibir indahnya tak henti hentinya mengeluh, merintih dan mengerang. Merasakan api nafsu makin membakar tubuhnya. Siap siap untuk menghanguskannya. Tubuhnya meliuk liuk menggelinjang di dera kesangat nikmatan yg menderu deru bak angin puyuh.

”…Uhh…, ayo aku mau sekarang deh,… tak tahan lagi…” terdengar bisik lirih Cintia seraya jemarinya meluncur ke bawah, menemukan batang kejantanan Rosi yg telah siap untuk menunaikan tugas utamanya.

Jemari lentik itu menyelipkan batang kekar itu tepat pada bagian lehernya pada antara jemari telunjuk dan tengahnya, bak sebuah gunting. Di tuntunnya bonggol batang kekar itu mengarah pada lepitan kewanitaannya yg telah basah. Pinggulnya bergerak mendekat. Terasa oleh Rosi betapa lepitan lembut di kewanitaan Cintia menjemput ujung membola batang kekarnya.

”…Ouhhh…”erang Cintia pendek.

Merasakan betapa betapa ujung membola batang kejantanan Rosi menyentuh dan menggesek permukaan lepitan kewanitaan yg telah basah tersebut. Didorongnya kembali pinggulnya…, lepitan itu terkuak dengan perlahan di belah bonggol kejantanan Rosi. Terus maju…, dan pada saat bonggol itu terbenam, gerakannya berhenti… hanya ujung membola batang kekar tersebut yg hilang dalam lepitan basah milik Cintia. Mereka terdiam. Dan Rosi pun diam menunggu aksi terusan wanita manis yg telah telah bersimbah keringat itu. Yg meleleh turun di lehernya yg jenjang terus menggelincir di permukaan dada yg membusung padat tersebut.

”…Ufhh….”keluh Rosi tatkala merasakan ujung kejantanannya yg telah tenggelam tersebut seoalah olah di pijit pijit oleh otot lembut dalam kawanitaan nya Cintia.
’Bukan main…!’ batin Rosi.

Gerakan otot tersebut dilakukan Cintia secara ritmis dan teratur. Dengan tubuh diam bibir tersenyum, matanya indahnya memandang kedalaman mata Rosi tak berkedip, menyaksikan ekspresi Rosi meringis dan tergagap gagap saat aksi itu berlangsung.

Rosi tak tahan..!. Segera direngkuhnya pinggang ramping tersebut. Dan dengan telapak tangannya di cengkeramnya bokong padat milik Cintia. Kembali mulutnya beraksi pada pada puncak dada yg membusung yg berada tepat di hadapan wajahnya. Diperkuatnya pijakan kedua kakinya. Dengan perlahan di dorongnya pinggulnya maju… Perlahan batang kejantanannya mulai mendesak masuk meneruskan pembukaan oleh bonggol membulat miliknya. Terasa setiap permukaan dinding lembut yg telah basah pada kewanitaan Cintia terkuak mili demi mili. Terasa juga bagian dinding dalam dinding lembut tersebut bak deretan cincin karet yg meregang satu persatu. Terasa juga setiap regangannya bergemeluk seiring tekanan masuk bonggol batang kejantanan Rosi disana.

”..Ooohhh….” pekik Cintia membeliakkan mata indahnya sepanjang perjalanan batang kekar lelaki di bawahnya, merasakan tubuhnya mulai dipenuhi sesak oleh daging liat pada bagian bawah tubuhnya.

Rosi terus mendesak dan dengan sebuah sentakkan, batang kekar miliknya terbenam utuh dalam kelembutan mencekal kewanitaan Cintia.

”…Aaahhh….. !” seru Cintia tertahan saat terbenamnya milik Rosi seutuhnya pada kewanitaan nya. Cintia memandang wajah lelaki gagah itu dengan pandangan berbinar binar, tersenyum simpul.
’Bukan main mas Rosi…..’ batinnya girang.

Dengan kedua tangan bertelekan pada bahu Rosi, Cintia mulai bergerak naik turun. Memompa semua hasrat birahinya hingga tak bersisa. Menuntaskan gejolak darahnya yg mendidih oleh bara nikmat yg mulai bangkit di episentrumnya. Derit sofa meningkahi setiap gerakan tubuh langsing tersebut. Rosi membantu dengan menggengam pinggang langsing wanita muda itu, mengerakkan pinggang tersebut naik turun. Perlahan gerakan Cintia makin cepat diselingi lenguh dan erang yg keluar dari bibir mungilnya. seksigo

”…Ayoo…mas, makin cepath….uuhhh….”lenguhnya di tengah gerakannya yg makin tergesa gesa.

Napasnya telah memburu, terengah engah pada perpacuan birahi ini. Mata indahnya berkerjab kerjab kadang mendelik hingga keliatan bagian putihnya saja. Kadang kecipak kecipuk seksi terdengar dari pertemuan kulit yg telah berkeringat disana sini meningkahi gerakan mereka. Mereka terus berpacu. Cepat sekali nafsu wanita muda itu mendaki puncak birahinya.

”…Aaahh…nngghh……..”rengek Cintia saat tubuhnya telah siap untuk di ledakkan pada puncak kenikmatannya.

Kini gerakannya pinggul Cintia tak lagi naik turun, melainkan bergerak seperti pacul menggali hingga dalam. Tubuh bagain atas hingga pinggangnya tak bergerak hanya pinggul ke bawah yg bergerak mengayun. Menghujamkan liang kewanitaannya pada batang kekar yg keras bak tugu menjulang. Pinggulnya terus bergerak memacul makin cepat. Rosi merasakan gerakan Cintia seperti pijatan dan urutan yg nikmat tak terperi. Seakan akan pada saat turun liang tersebut menelan batang kejantanannya dan saat naiknya memeras batang kejantanannya. Gerakan Cintia makin cepat. Diiringi gelinjang tubuhnya makin gusar. Mulutnya menceracau menggumamkan kata kata tak jelas. Napasnya telah memburu tersengal sengal. Puncak telah sangat dekat…

”…Aaahhh …, nnnggghh….,nnghh…, ngghhhh..,” rengek Cintia terputus putus saat puncak klimaks birahinya datang.

Menggulung tubuhnya hingga tak beraga. Melambungkan jiwanya pada langit berwarna. Melayg layg dibuai nikmat surgawi. Mata indahnya membeliak, kakinya meregang kaku, melentingkan punggungnya bak busur panah. Gerakan pinggulnya terpatah patah seolah tak bertulang. Rosi tanggap dan segera menggenggam pinggang lentik tersebut. Bergerak memberikan tambahan gelombang nikmat yg beruntun untuk menuntaskan puncak klimaksnya Cintia.

”…Ngghhh…..” lenguhnya menggigit bahu kanan lelaki yg masih memaku pinggulnya.

Rosi tak memberikan jeda. Segera diangkatnya tubuh sintal tersebut dan di baringkannya dalam posisi terduduk di atas sofa. Rok panjang Cintia ditariknya lepas hingga tubuh mulus itu kini telanjang bulat. Segera di dorongnya kembali pinggulnya. Menyeruakkan lepitan basah milik Cintia dengan batang kejantanannya yg menjulang kokoh.

”…Ouuhhh…” keluh Cintia.

Belum selesai gelombang puncak klimaksnya terakhiri, gelombang baru telah mulai menderanya. Rosi bergerak memacu pinggulnya. Menghunjamkan batang berototnya tak kenal lelah. Mengumpulkan kepingan kepingan puzzle birahinya. Menyusunnya dengan tekun. Kaki Cintia membelit di belakang tubuh Rosi. Bibirnya mencucupi puting Rosi. Kadang matanya memandang ke bawah dengan mulut menganga, menyaksikan liang pribadinya di gempur dengan ganas oleh batang berotot lelaki kenalan barunya ini. kisah sex

”…Ooohh…”rintih Cintia dengan mata mendelik.

Saat merasakan betapa batang berotot tersebut menggerus seluruh permukaan lembut dinding kewanitaannya. Mencumbui setiap titik pemicu birahinya di sana. Bercengkrama dengan kebasahan yg hangat di dalam sana.

Rosi terus bergerak, terkadang diam. Tetapi tak semata mata diam. Di kedut kedutkannya otot kekarnya yg terbenam di dalam liang basah itu. Reaksi Cintia sungguh tak terduga. Batang berotot tersebut dirasakan oleh wanita muda itu seakan membesar dan membesar, menekan nekan permukaan dinding liang yg di penuhi oleh berjuta juta tombol saraf yg peka tersebut. Pada setiap kedutan rintih dan lenguh Cintia terdengar makin keras.

”…Oouuhhh…!” erang wanita sintal tersebut.

Tubuhnya menggerinjal gerinjal. Menggeliat dengan gusar. Kembali Rosi bergerak memompa. Makin cepat gerakannya. Dirasakannya kepingan puzzle birahinya makin mendekati. Dilihatnya Cintia memejamkan matanya , menahan nafasnya. Dan pada satu hunjaman…

”…Aaahhh……..!” pekiknya keras. Puncak klimaks menghampirinya lagi.

Kembali tubuhnya melenting. Bergerak terpatah patah dengan napas terputus putus. Kedua kakinya menendang nendang gelisah di belakang punggung Rosi. Kedua tangannya menekan bokong Rosi ke bawah. Menahankan agar hunjaman batang berotot terbenam sedalam dalamnya.

Agak kesulitan Rosi menggerakkan pinggulnya karena merasakan liang basah tersebut bergerak peristaltik. Memijit mijit batang miliknya seakan akan memeras seluruh isinya. Namun gerakan peristaltik itu menyebabkan kepingan nafsunya segera dengan cepat menjadi lengkap dan dengan satu gerakan…

”…Aaarrgghhhh…….!” geram Rosi menghunjamkan batang berototnya sedalam dalamnya.

Materi hangat kehidupannya berlarian di sepanjang pembuluh batang berototnya. Berpacu berkejaran menuju celah pelepasannya. Dan saling berpancuran menyirami, membasahi liang lembab tersebut dengan lecutan lecutan kental yg hangat. Pinggul Rosi tersentak sentak pada setiap lecutan pancuran yg menyembur keluar. Hingga semburan tersebut melemah dan berakhir…

Tubuh Rosi menggelosoh di atas tubuh Cintia. Kedua tubuh yg bersimbah keringat itu terdiam, meredakan gemuruh nafas mereka yg terengah engah seraya menikmati sisa sisa puncak birahi yg masih terasa. Mata keduanya terpejam. Menit demi menit berlaku tanpa kegiatan

”…Uhh….mas Rosi nakal…….”ucap Cintia mengerlingkan matanya saat mereka membereskan pakaiannya masing.masing.
”Kamu yg nakal…Cin…….” sahut Rosi tersenyum
”Terserah deh…., papa mama nakal…..”ujarnya tertawa simpul.

Setelah itu mereka kembali duduk diatas sofa berdampingan. Kepala Cintia rebah pada bahu Rosi. Jemarinya mengelus elus bulu tangan Rosi. Mereka diam tetapi batin mereka berbicara. ’Lelaki ini sungguh jantan, takkan pernah kusesali kejadian ini….’bati wanita sintal ini. ’Baru kali ini kutemui wanita yg sangat panas bergelora….’ pikir Rosi dalam hati.

”Ngghh.. Cin, kayanya sudah sore nih, aku harus berangkat dulu……”Ujar Rosi mengangkat wajah Cintia.
”Mmmhhh…, iya udah jam 2.., ga terasa ya…? ujarnay tersenyum ringan. Setelah berkecupan sesaat, Rosi pun pamit .

Setelah saling bertukaran nomer telepon Rosi beranjak dengan usapan jemari Cintia pada pipinya.

”Jangan lupa ya, telfon aku setiap mas ke auto 2000, sepertinya mulai saat ini aku perlu di ’service berkala’ deh..”ujar Cintia tersenyum nakal.
” Ok deh bye……”sahut Rosi. Masuk kedalam mobilnya. Dan beranjak keluar dari halaman rumah Cintia. Tak lupa sambil melambaikan tangan mobil Avanza itu pun menghilang di tikungan.

Author: 

Related Posts